Detak.news — Memasuki paruh kedua tahun 2026, industri perbankan Indonesia mengadopsi pendekatan bisnis yang lebih konservatif. Dalam menghadapi tantangan likuiditas, tingginya biaya dana, dan potensi peningkatan risiko kredit, bank-bank kini mengalihkan prioritas utama dari sekadar mengejar pertumbuhan penyaluran kredit menjadi menjaga kualitas kredit yang telah disalurkan.
Hingga Mei 2026, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) industri perbankan tercatat berada di level 2,17% secara gross. Sementara itu, loan at risk (LAR) berhasil dijaga pada posisi 8,72%. Angka-angka ini menunjukkan bahwa kualitas aset perbankan secara keseluruhan masih tetap terjaga, meskipun terdapat tekanan yang meningkat pada aspek likuiditas dan biaya dana.
Salah satu strategi proaktif yang dijalankan sejumlah bank adalah mempercepat proses pembersihan portofolio kredit bermasalah. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), misalnya, menargetkan penjualan portofolio kredit bermasalah (NPL) senilai Rp300-Rp500 miliar pada semester II-2026. Penjualan ini akan dilakukan melalui skema penjualan langsung kepada investor maupun melalui mekanisme sekuritisasi aset.
Sebelumnya, pada semester I-2026, NPL gross BTN berada di angka 2,99%, menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 3,33%. Direktur Manajemen Risiko BTN, Setiyo Wibowo, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya perseroan untuk menjaga kualitas aset sekaligus menekan rasio NPL hingga kisaran 2,7-2,8% pada akhir tahun ini. Selain penjualan NPL, BTN juga berupaya menurunkan biaya pencadangan seiring dengan membaiknya kualitas kredit baru yang disalurkan.
Menurut Bowo, kualitas booking kredit menunjukkan tren yang positif, tercermin dari penurunan cost of credit maupun pembentukan kredit bermasalah baru. “Nanti ada beberapa investor, ada yang pembelian secara normal biasa. Jadi posisi akhir NPL itu kisarannya 2,7% sampai 2,8% mudah-mudahan bisa kisaran itu ya,” ungkap Bowo dalam sebuah kesempatan di Jakarta.
Bowo menambahkan bahwa mayoritas aset yang masuk kategori NPL masih memiliki agunan berupa rumah dengan kelengkapan legalitas yang memadai. Hal ini membuat aset tersebut tetap memiliki nilai ekonomis untuk dijual kembali ataupun direstrukturisasi. BTN pada semester I-2026 juga berhasil menurunkan provisi karena prospek kualitas kredit yang membaik, yang terlihat dari penurunan NPL, sehingga berdampak pada pemangkasan biaya pencadangan.
Perseroan mencatat NPL untuk kredit perumahan masih berada di level 3,5%, sementara NPL kredit non-perumahan berada di posisi 0,9%. BTN juga terus memperketat standar dalam penyaluran kredit baru. Perseroan menilai segmen KPR subsidi dan rumah pertama justru menunjukkan kualitas terbaik dengan rasio NPL sekitar 1,3%, menjadikannya salah satu fokus ekspansi pada semester II.
Rem Pertumbuhan
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, sebelumnya telah mengakui adanya tantangan likuiditas yang membuat perseroan lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Akibatnya, target pertumbuhan kredit tahun ini direvisi menjadi sekitar 8-10%. BTN memilih untuk menjaga kualitas aset dan likuiditasnya dibandingkan memaksakan ekspansi di tengah kompetisi penghimpunan dana yang semakin ketat.
Strategi ini juga didukung dengan penguatan buffer likuiditas seiring dengan penarikan bertahap dana saldo anggaran lebih (SAL) dari pemerintah. “Kami turunkan pertumbuhan kredit jadi 8-10%, tiap minggu kami rapat ALCO (assets and liability committee), pantau perkembangan suku bunga, tantangan kami likuiditas, tidak bisa paksa kredit tumbuh kalau likuiditas tidak ada, likuiditas itu sebagai darah. Kalau tidak ada darah, jangan lari kencang, bisa pingsan atau meninggal,” jelas Nixon.
Secara terpisah, Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, menyatakan bahwa meskipun kinerja fundamental perbankan masih solid, tingkat kewaspadaan tetap diperlukan mengingat ketidakpastian global yang masih cukup tinggi. Ketegangan geopolitik, volatilitas harga energi, serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara berpotensi memengaruhi aktivitas usaha dan sentimen pasar keuangan.
“Karena itu, pengelolaan risiko yang prudent, kecukupan likuiditas, serta kualitas pertumbuhan kredit harus terus menjadi perhatian utama agar ketahanan industri tetap terjaga,” ujar Hery.
Untuk itu, perbankan perlu terus meningkatkan berbagai langkah mitigasi risiko di tengah ketidakpastian saat ini. Menurut Hery, penguatan manajemen risiko menjadi aspek yang krusial, antara lain melalui pelaksanaan stress test sektoral pada portofolio yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi, penguatan sistem peringatan dini (early warning system) terhadap potensi pemburukan kualitas kredit, serta penerapan disiplin kredit yang lebih kuat sesuai profil risiko masing-masing debitur.
Direktur Utama j Trust Bank, Ritsuo Fukadai, menyampaikan bahwa perseroan menghadapi tekanan dan kondisi makroekonomi yang berdampak terhadap kinerja keuangan. Dalam kondisi tersebut, perseroan memilih untuk menjalankan strategi bisnis secara lebih selektif dan hati-hati dengan menitikberatkan pada penguatan fundamental, kualitas portofolio, pengendalian internal, serta pengelolaan risiko yang terukur.
“Kami memilih untuk tidak mengejar pertumbuhan secara agresif, melainkan memperkuat fondasi bisnis melalui tata kelola, pengendalian internal, kualitas aset, dan manajemen risiko yang lebih terukur,” jelas Ritsuo.
Bagi perseroan, pertumbuhan yang sehat harus dibangun secara prudent dan hati-hati agar mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan.
Ikuti Detak.news
