— JAKARTA – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyampaikan bahwa hasil uji jalan biodiesel B50 sejauh kurang lebih 50.000 kilometer menunjukkan performa yang baik dan layak untuk digunakan pada kendaraan diesel di Indonesia. Meskipun demikian, pengujian ini masih bersifat awal, sehingga dampak penggunaan B50 dalam jangka panjang masih perlu terus dipantau.

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menjelaskan bahwa pengujian ini dilakukan bersama pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan melibatkan sejumlah agen pemegang merek (APM) yang memasarkan kendaraan diesel di Indonesia.

“Gaikindo terlibat langsung (road test B50). Gaikindo terutama anggota-anggota yang memiliki kendaraan diesel, itu terlibat dalam kegiatan uji coba B50 beberapa waktu yang lalu dengan pemerintah, dalam hal ini Kementerian ESDM,” kata Kukuh saat dihubungi, Minggu (19/7/2026).

Menurut Kukuh, pengujian tidak hanya dilakukan pada kendaraan niaga, tetapi juga mencakup mobil penumpang bermesin diesel, truk, dan bus. Keterlibatan berbagai jenis kendaraan ini diharapkan dapat memberikan gambaran terhadap beberapa segmen utama kendaraan diesel yang beroperasi di Indonesia.

“Yang diuji lapangan itu ada kendaraan penumpang, tapi mesinnya diesel, ya. Kemudian juga ada truk, dan juga ada bus,” ujarnya.

Hingga jarak tempuh sekitar 50.000 kilometer, B50 dinilai tidak menimbulkan persoalan berarti pada kendaraan yang diuji. Temuan ini menjadi indikasi awal bahwa bahan bakar tersebut dapat digunakan pada kendaraan diesel.

“Sampai kurang lebih 50.000 kilometer percobaan, itu menghasilkan, hasilnya bisa diterima, cukup baik, ya, artinya itu bisa digunakan untuk kendaraan-kendaraan diesel di Indonesia,” kata Kukuh.

Meskipun demikian, Kukuh mengingatkan bahwa penggunaan B50 tetap harus memenuhi spesifikasi teknis kendaraan. Salah satu parameter penting yang perlu diperhatikan adalah kadar sulfur dalam bahan bakar, selain berbagai persyaratan teknis lainnya.

Ia menegaskan hasil road test tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan akhir karena masih merupakan pengujian tahap awal. Kondisi kendaraan diesel yang digunakan masyarakat sangat beragam, baik dari sisi usia kendaraan, teknologi mesin, kualitas perawatan, maupun kondisi sistem bahan bakar, sehingga berpotensi menghasilkan dampak yang berbeda.

Selain itu, kendaraan yang dilibatkan dalam pengujian juga masih berasal dari jumlah merek yang terbatas. Karena itu, hasil uji belum dapat merepresentasikan seluruh merek maupun tipe kendaraan diesel yang beredar di Indonesia.

“Betul, itu kan baru 50.000 kilometer ya. Dan brand-brand-nya terbatas gitu kan. Enggak semua merek ikut, gitu,” ujarnya.

Kukuh menilai dampak penggunaan B50 dalam jangka panjang masih perlu diuji lebih lanjut. Pemantauan lanjutan diperlukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap performa mesin, sistem bahan bakar, konsumsi bahan bakar, hingga kebutuhan perawatan kendaraan.

“Dari kendaraan yang diuji coba sampai 50.000 kilometer, itu hasilnya bagus. Dan harusnya dengan demikian, harusnya bisa diterima. Tapi jangan dianggap bahwa kemudian di lapangan tidak akan menimbulkan masalah yang lain, kita belum tahu. Terlalu dini,” tegas Kukuh.

Menurut Kukuh, penerapan B50 merupakan kebijakan mandatori pemerintah sehingga kendaraan diesel pada akhirnya akan menggunakan bahan bakar tersebut. Oleh sebab itu, konsistensi kualitas B50 dan kesesuaiannya dengan karakteristik kendaraan menjadi faktor penting agar implementasinya dapat berjalan optimal ketika digunakan secara luas oleh masyarakat.