— Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub), bersama dengan Pemerintah China telah merampungkan pengembangan Bandar Udara (Bandara) Maleo di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Proyek bernilai hibah Rp177,99 miliar ini bertujuan untuk memperkuat konektivitas transportasi udara di wilayah tersebut.

Penandatanganan Naskah Perjanjian Hibah dan Berita Acara Serah Terima pembangunan serta pengembangan Bandara Maleo antara PT Zhenshi Indonesia Industrial Park kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub telah dilaksanakan. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan bahwa langkah ini merupakan strategi Kemenhub untuk meningkatkan konektivitas udara, mendukung kawasan industri nasional, dan memperbaiki pelayanan transportasi bagi masyarakat.

“Hari ini kita tidak hanya menyaksikan penyelesaian sebuah proyek infrastruktur, tetapi juga wujud nyata dari kemitraan yang memberikan manfaat bagi pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Atas nama Pemerintah Republik Indonesia, saya menyampaikan apresiasi kepada Republik Rakyat China dan PT Zhenshi Indonesia Industrial Park atas dukungan yang telah diberikan bagi pembangunan dan pengembangan Bandara Maleo,” ujar Dudy dalam keterangan rilisnya.

Dudy menambahkan bahwa kemitraan ini menunjukkan kolaborasi yang efektif dalam pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan Bandara Maleo merupakan komitmen Kemenhub untuk menyediakan infrastruktur transportasi udara yang mampu mengimbangi laju pertumbuhan kawasan industri Morowali.

Pengembangan Bandara Maleo dirancang untuk meningkatkan konektivitas udara di kawasan industri dan pusat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah. Peningkatan keandalan bandara diharapkan dapat memperlancar mobilitas masyarakat, pelaku usaha, tenaga kerja, serta distribusi logistik, sehingga meningkatkan daya saing wilayah.

“Ke depan kami berkomitmen membangun sektor penerbangan yang selamat, aman, nyaman, dan berkelanjutan serta menyambut setiap kemitraan yang mendukung peningkatan kualitas dan keandalan layanan penerbangan nasional,” jelasnya.

Detail Pengembangan Bandara Maleo

Pekerjaan pengembangan Bandar Udara Maleo mencakup penataan runway strip dan Runway End Safety Area (RESA), perbaikan tanah menggunakan metode CFG Pile, perpanjangan runway sepanjang 300 meter dengan lebar 30 meter, pembangunan turning area, pemasangan pagar sisi udara, serta penyempurnaan marka landasan. Seluruh pekerjaan ini meliputi area seluas 54.011,95 meter persegi.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara akan melanjutkan peningkatan fasilitas Bandara Maleo dengan penguatan perkerasan runway, pelebaran apron, serta penyediaan fasilitas navigasi dan visual aid. Upaya ini dilakukan agar bandara mampu melayani pesawat berkapasitas lebih besar dengan tetap mengutamakan standar keselamatan, keamanan, dan pelayanan penerbangan.

Kemitraan Indonesia-China di Sektor Penerbangan

Kerja sama Indonesia dan China di bidang penerbangan terus menunjukkan perkembangan positif. Salah satu contohnya adalah penyelenggaraan 17th ASEAN-China Working Group on Regional Air Services Arrangements (ACWG-RASA) di Yogyakarta pada 7–9 Juli 2026.

Indonesia juga mengharapkan dukungan Republik Rakyat China terhadap pencalonan Indonesia sebagai anggota Dewan ICAO (ICAO Council), sebagai wujud komitmen untuk berkontribusi pada kemajuan penerbangan sipil internasional dan kepentingan bersama di kawasan Asia Pasifik.

Dukungan Pemerintah Daerah dan Potensi Maskapai

Analis penerbangan independen Gatot Rahardjo menekankan pentingnya dukungan kuat dari pemerintah daerah dalam memanfaatkan keberadaan bandara di kawasan industri untuk mendorong pertumbuhan wilayah.

“Pekerjaan rumahnya sekarang bagaimana maskapai bisa bertambah dan menerbangi Bandara Maleo. Jangan sampai nasibnya sama dengan bandara-bandara lain yang tidak diterbangi maskapai karena peminat kurang,” ujarnya.

Gatot menambahkan bahwa banyak bandara di Indonesia yang belum termanfaatkan. Pemerintah daerah perlu menjadikan wilayah mereka memiliki daya tarik tersendiri agar maskapai tertarik untuk membuka rute. Sektor pariwisata juga dapat dimanfaatkan untuk menarik minat.

Meskipun dunia penerbangan belum sepenuhnya pulih pasca-pandemi, dukungan pemerintah, baik dalam bentuk infrastruktur maupun insentif, masih dibutuhkan selama wilayah tersebut memiliki potensi berkembang berdasarkan kajian yang ada.

Penerbangan Sriwijaya Air di Bandara Maleo

Pada awal tahun 2026, maskapai Sriwijaya Air telah resmi melayani penerbangan di Bandara Maleo Morowali. Pemerintah Kabupaten Morowali menyambut momen bersejarah ini dengan peresmian pendaratan dan lepas landas perdana pesawat Sriwijaya Air.

Bupati Morowali, Iksan Baharudin Abdul Rauf, menyatakan bahwa penerbangan perdana Sriwijaya Air di Bandara Maleo Morowali merupakan momentum penting untuk memperkuat konektivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Ini adalah doa masyarakat Morowali dan Morowali Utara yang hari ini terjawab. Dengan hadirnya Sriwijaya Air, akses transportasi udara kita semakin baik dan semakin terjangkau,” kata Iksan.

Ia menambahkan bahwa hadirnya Sriwijaya Air menjadi tonggak penting dalam meningkatkan pelayanan transportasi udara yang lebih terjangkau, merata, dan berkelanjutan bagi masyarakat. Konektivitas udara yang terbuka diharapkan berdampak besar pada pertumbuhan ekonomi dan mobilitas masyarakat.

Sebelumnya, masyarakat mengeluhkan harga tiket pesawat yang mencapai Rp2 juta. Dengan masuknya Sriwijaya Air, harga tiket kini dapat ditekan hingga sekitar Rp900 ribu, yang sangat membantu masyarakat.

Pemerintah daerah juga mendorong penambahan rute penerbangan. Morowali Utara mengusulkan rute langsung ke Manado, sementara Pemerintah Kabupaten Morowali mengusulkan penerbangan ke Palu dan penambahan jadwal ke Kendari. Pengembangan rute ini penting untuk memperkuat konektivitas antarwilayah, mendukung arus investasi, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.