Detak.news — Peningkatan nilai jual sawit rakyat tidak hanya bergantung pada produktivitas kebun, tetapi juga pada kualitas tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan. Oleh karena itu, penerapan teknik panen dan pascapanen yang tepat menjadi kunci utama untuk meningkatkan daya saing dan memenuhi standar industri perkebunan.
Kepala Bagian Usaha Hulu PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), Fandi Hidayat, menekankan pentingnya peningkatan kompetensi pekebun sawit rakyat dalam teknik panen dan pascapanen. “Kompetensi para pekebun atas teknik panen dan pascapanen TBS perlu ditingkatkan. Pelatihan panen dan pascapanen menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual sawit rakyat,” ungkap Fandi Hidayat dalam keterangan yang diterima, Jumat (24/07/2026).
Untuk mewujudkan hal tersebut, RPN bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) menyelenggarakan Pelatihan Petani Sawit Kelas Teknik Panen dan Pascapanen Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026. Kegiatan ini berlangsung pada 20-25 Juli 2026 di Palembang, Sumatra Selatan, diikuti oleh 133 peserta yang terdiri dari pekebun dan penyuluh perkebunan sawit dari Kabupaten Muara Enim.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan pemahaman teori dan praktik panen serta pascapanen yang benar. Diharapkan, ilmu yang didapat dapat meningkatkan produktivitas, mutu hasil, dan efisiensi usaha perkebunan, serta disebarluaskan kepada pekebun lainnya.
Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel, Dian Eka Putra, menyatakan bahwa tahapan panen sangat menentukan kualitas hasil sawit. “Penanganan panen dan pascapanen yang sesuai standar akan menjaga kualitas hasil TBS dan memudahkan pemasaran sehingga sawit rakyat memiliki nilai jual yang lebih baik,” papar Dian.
Senada dengan itu, Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Perkebunan Kabupaten Muara Enim, Muslim Budiman, menambahkan bahwa penerapan teknik panen yang benar dapat menekan kehilangan hasil sawit, meningkatkan efisiensi kerja, dan memperkuat posisi tawar pekebun. “Salah satu manfaat dari penerapan teknik panen yang benar adalah kehilangan hasil sawit dapat ditekan,” tandas Muslim.
Sebagai bagian dari program, peserta pelatihan juga mengikuti field trip ke PT Bina Sawit Makmur dan PT Perkebunan Minanga Ogan pada 23 Juli 2026 untuk melihat langsung penerapan standar panen dan pascapanen di lapangan.
Melalui kolaborasi antara BPDP, Ditjen Perkebunan, RPN, dan pemerintah daerah, pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia pekebun. Hal ini bertujuan agar sawit rakyat memiliki daya saing yang kuat, memberikan nilai tambah, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan para pekebun di Muara Enim.
Data Ditjen Perkebunan Kementan menyebutkan, luas perkebunan sawit Indonesia mencapai lebih dari 16,83 juta hektare. Sekitar 41% dari total luas tersebut dikelola oleh pekebun rakyat, menunjukkan peran krusial mereka dalam menentukan masa depan industri sawit nasional.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.