Detak.news — Pertumbuhan likuiditas perekonomian Indonesia menunjukkan perlambatan pada Juni 2026. Bank Indonesia (BI) melaporkan uang beredar dalam arti luas (M2) hanya tumbuh 8,7% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp10.432,8 triliun. Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 10,8% yang tercatat pada Mei 2026.
Perlambatan likuiditas ini terjadi bersamaan dengan akselerasi penyaluran kredit perbankan. Data BI menunjukkan, penyaluran kredit justru meningkat menjadi 12,1% (yoy), yang merupakan level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Fenomena kontras ini mengindikasikan bahwa sistem keuangan mulai mengalami pengetatan likuiditas seiring penyesuaian kebijakan moneter, namun aktivitas intermediasi perbankan tetap terjaga.
Kondisi ini juga menandakan bahwa permintaan pembiayaan dari dunia usaha masih cukup kuat meskipun ruang likuiditas semakin terbatas. Dalam laporan “Uang Beredar dan Faktor yang Memengaruhi” periode Juni 2026, BI menjelaskan bahwa perlambatan M2 utamanya disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan uang beredar sempit (M1). Pertumbuhan M1 turun menjadi 9,8% dari sebelumnya 15,3%.
Perlambatan paling signifikan terlihat pada giro rupiah yang hanya tumbuh 10,4%, jauh di bawah angka 23,9% pada Mei. Di sisi lain, uang kuasi justru mencatat peningkatan menjadi 6,9% dari sebelumnya 6,0%. Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan simpanan berjangka yang mulai menunjukkan tren positif.
Meskipun likuiditas melambat, penyaluran kredit perbankan terus menguat. Total kredit perbankan pada Juni mencapai Rp8.916,7 triliun, atau tumbuh 12,1% (yoy), naik dari 10,8% pada Mei. Peningkatan akselerasi ini terutama didorong oleh kredit korporasi yang tumbuh 19,3%, sementara kredit kepada individu meningkat 3,5%.
Menurut BI, perkembangan uang beredar pada Juni dipengaruhi oleh pertumbuhan penyaluran kredit dan kenaikan tagihan bersih kepada pemerintah pusat. Pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat masih positif sebesar 10,1%, namun lajunya jauh lebih rendah dibandingkan lonjakan 37,4% pada bulan sebelumnya.
Jika dilihat dari jenis penggunaannya, ekspansi kredit sebagian besar berasal dari kredit investasi yang tumbuh 22,5%, meningkat dibandingkan Mei yang sebesar 20,5%. Kredit modal kerja juga mengalami penguatan menjadi 9,6% dari sebelumnya 7,9%. Peningkatan ini utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan dan konstruksi. Sementara itu, kredit konsumsi relatif stabil di kisaran 5,7%.
Kredit properti juga masih menunjukkan tren ekspansif dengan pertumbuhan 17,6% (yoy). Pertumbuhan ini terutama didorong oleh lonjakan kredit konstruksi yang mencapai 47,1%. Namun, kredit kepemilikan rumah (KPR/KPA) tercatat sedikit melambat menjadi 4,4%.
Di sisi lain, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mulai kehilangan momentum. DPK hanya tumbuh 8,1% (yoy), turun dari 10,8% pada Mei. Perlambatan ini terutama terjadi pada giro dan tabungan. Sebaliknya, simpanan berjangka mulai meningkat menjadi 6,3%. Hal ini mencerminkan pergeseran preferensi masyarakat ke instrumen simpanan dengan imbal hasil yang lebih tinggi, seiring dengan kenaikan suku bunga deposito.
Kenaikan suku bunga juga tercermin pada biaya dana perbankan. Rata-rata tertimbang suku bunga kredit meningkat menjadi 8,79% dari 8,70% pada Mei. Suku bunga simpanan berjangka untuk seluruh tenor juga mengalami kenaikan, mulai dari tenor satu bulan hingga satu tahun.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.