— Pengelolaan lingkungan di sektor pertambangan menuntut lebih dari sekadar kepatuhan terhadap regulasi. Pendekatan ilmiah sangat krusial untuk memahami karakteristik lingkungan secara mendalam, sehingga langkah pengelolaan yang diterapkan selaras dengan kondisi lapangan.

Demikian disampaikan Prof. Hunggul Yudono Setio Hadi Nugroho, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama Wiwiek Dwi Susanti dan Rajif Iryadi. Ketiganya tengah mengkaji hidrologi, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), serta rekayasa fasilitas pengendali sedimen di area operasional PT Masmindo Dwi Area (MDA). Kajian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas sistem pengelolaan sedimen guna memastikan kualitas air sungai penerima tetap memenuhi baku mutu yang ditetapkan pemerintah.

Hunggul menjelaskan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik bentang alam dan hidrologi yang unik, sehingga pendekatan pengelolaan lingkungan tidak bisa disamaratakan. “Menilai kualitas lingkungan harus dilakukan secara ilmiah. Pengamatan visual dapat menjadi indikasi awal, tetapi tidak dapat dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan. Diperlukan pengukuran terhadap berbagai parameter, analisis laboratorium, serta pemahaman terhadap karakteristik daerah aliran sungai agar hasil penilaiannya benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberadaan sedimen di badan air dipengaruhi oleh beragam faktor, seperti curah hujan, jenis tanah, kemiringan lereng, dan karakteristik alami DAS. Oleh karena itu, evaluasi kualitas lingkungan harus dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut.

“Setiap DAS memiliki karakteristik yang unik. Desain maupun evaluasi fasilitas pengendali sedimen harus disusun berdasarkan data lapangan dan kajian ilmiah sehingga solusi yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kondisi di lokasi. Pendekatan inilah yang menjadi dasar dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan yang efektif dan berkelanjutan,” lanjutnya.

Kajian ini juga mengevaluasi efektivitas sejumlah infrastruktur pengendali sedimen yang telah dibangun MDA, meliputi sediment pond, rock check dam, dan drop structure. Fasilitas tersebut dirancang untuk menahan sedimen dari area konstruksi sebelum air dialirkan ke sungai penerima, sekaligus menjadi bagian dari upaya pengelolaan kualitas air selama tahapan pembangunan proyek.

Hunggul menilai keterlibatan akademisi dan peneliti dalam pengambilan keputusan teknis merupakan pendekatan penting untuk mendorong pengelolaan lingkungan yang adaptif. “Ketika dunia industri membuka ruang bagi pendekatan ilmiah, maka setiap keputusan pengelolaan lingkungan dapat didasarkan pada data, bukan asumsi. Kolaborasi seperti ini memungkinkan praktik-praktik terbaik terus berkembang sehingga pengelolaan lingkungan tidak hanya memenuhi ketentuan yang berlaku, tetapi juga mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” jelasnya.

Langkah MDA menggandeng peneliti BRIN menunjukkan komitmen pengelolaan lingkungan yang tidak hanya memenuhi kewajiban regulasi, tetapi juga sebagai proses berkelanjutan yang disempurnakan melalui kajian ilmiah. Keterlibatan para ahli dalam mengevaluasi aspek hidrologi, pengelolaan DAS, hingga sistem pengendali sedimen memastikan setiap keputusan teknis didasarkan pada data, analisis, dan praktik terbaik dalam pengelolaan lingkungan.