Detak.news — Nilai tukar rupiah (IDR) kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada pembukaan perdagangan Selasa, 28 Juli 2026. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif yang terjadi pada hari sebelumnya.
Berdasarkan data pasar spot exchange yang dirilis Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah 65 poin atau 0,36% ke posisi Rp 18.074 per dolar AS. Posisi ini menunjukkan tekanan yang berlanjut setelah pada penutupan perdagangan Senin (27/7/2026), rupiah ditutup melemah 46 poin (0,26%) ke level Rp 18.009 per dolar AS.
Dolar AS sendiri terpantau bertahan di level tertingginya dalam satu bulan terakhir. Kondisi ini dipengaruhi oleh minimnya ekspektasi kenaikan suku bunga dari Federal Reserve, meskipun penurunan harga minyak sempat meredakan kekhawatiran terkait inflasi. Indeks dolar AS tercatat naik tipis 0,03% menjadi 101,55.
Pergerakan mata uang utama lainnya juga menunjukkan tren yang bervariasi terhadap dolar AS. Euro tercatat turun 0,01% menjadi US$ 1,1366 per troy ounce, sementara yen Jepang melemah 0,05% ke angka 163,82 per dolar AS. Poundsterling Inggris juga mengalami pelemahan 0,02% menjadi $ 1,3284.
Mata uang dari benua Oseania juga tidak luput dari tekanan. Dolar Australia merosot 0,11% terhadap dolar AS menjadi $ 0,6981, sementara dolar Selandia Baru tercatat jeblok 0,12% ke level $ 0,5766 per dolar AS.
Analis dari Pepperstone, Chris Weston, menyatakan bahwa kurangnya pembelian signifikan pada kurva obligasi pemerintah menjadi faktor yang membantu dolar AS tetap kuat. Sementara itu, Mahjabeen Zaman, kepala riset valuta asing di ANZ Bank, berpendapat bahwa kenaikan suku bunga yang tak terduga dari The Fed dapat memberikan dukungan lebih lanjut kepada dolar AS, berpotensi mendorongnya ke level tertinggi baru, terutama terhadap mata uang dengan imbal hasil lebih rendah seperti yen Jepang dan franc Swiss.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.