— Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi sorotan untuk perdagangan Selasa (28/7/2026). KB Valbury Sekuritas memberikan panduan bagi investor yang ingin memaksimalkan potensi keuntungan dari aktivitas trading saham ini.

KB Valbury Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness atau membeli saat harga saham mengalami penurunan. Investor disarankan untuk melakukan pembelian di kisaran harga Rp 4.090 hingga Rp 4.160 sebagai entry price. Untuk perdagangan harian, target harga yang ditetapkan adalah Rp 4.190.

Secara teknikal, saham BMRI memiliki level resistance atau batas atas di Rp 4.190, sementara level support atau batas bawah berada di Rp 4.090. KB Valbury Sekuritas mengingatkan, “Waspada jika harga menembus Rp 4.090. Stop loss di level Rp 3.990,” demikian tertulis dalam ulasan mereka yang dikutip pada Selasa (28/7/2026).

Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham Bank Mandiri (BMRI) dengan target harga yang dipatok sebesar Rp 6.200. Target harga ini didasarkan pada pendekatan inverse cost of equity (inverse CoE) lima tahun sebesar 11,6%. CoE sendiri merupakan tingkat imbal hasil yang diharapkan oleh investor atas investasi mereka pada saham perusahaan.

Perhitungan target harga tersebut juga mempertimbangkan asumsi pertumbuhan jangka panjang atau long-term growth (LTG) sebesar 3%. Target harga saham BMRI ini mencerminkan rasio harga terhadap nilai buku pada nilai wajar (fair value price to book value/FV PBV) sebesar 1,8 kali.

Risiko terhadap pandangan ini mencakup potensi harga minyak yang tetap tinggi dalam jangka panjang, yang berpotensi menekan net interest margin (NIM) dan kualitas aset. Untuk pandangan taktis dalam tiga bulan ke depan, BRI Danareksa Sekuritas menilai posisinya netral.

Pada kuartal II-2026, Bank Mandiri (BMRI) berhasil mencatatkan kinerja yang melampaui ekspektasi analis. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 15 triliun pada kuartal II-2026, mengalami penurunan 2% secara kuartalan (qoq) namun meningkat 33% secara tahunan (yoy).

Kinerja positif ini ditopang oleh kekuatan pendapatan berbasis komisi, penurunan beban operasional (operating expenses/opex), serta lebih rendahnya beban pencadangan. Faktor-faktor ini berhasil mengimbangi tekanan terhadap margin bunga bersih (NIM).

Secara kumulatif, laba bersih BMRI pada semester I-2026 mencapai Rp 30,4 triliun, meningkat 24% secara tahunan. “Realisasi tersebut telah mencapai 53% dari estimasi kami maupun konsensus pasar untuk tahun 2026, sehingga sedikit melampaui ekspektasi,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Nataniella Eva Kezia dalam riset mereka.

BMRI juga menunjukkan pertumbuhan kredit yang solid dengan biaya kredit (cost of credit/CoC) yang stabil. Meskipun kredit tumbuh 19%, beban pencadangan justru turun 2% dibandingkan kuartal sebelumnya. Kondisi ini membuat CoC tetap berada di kisaran 60 basis poin (bps).

“Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) stabil di level 0,98%,” sebut Victor. Sementara itu, rasio kredit berisiko (loan at risk/LaR), yang mengukur cakupan kredit dengan risiko penurunan kualitas, membaik menjadi 5,83%, turun 19 bps dibandingkan kuartal sebelumnya.

Manajemen BMRI, menurut Victor, mempertahankan panduan tahun 2026 untuk pertumbuhan kredit sebesar 7-9%, CoC sebesar 0,6-0,8%, serta cost to income ratio (CIR) sebesar 40-41%. Namun, panduan NIM kembali diturunkan menjadi 4,3-4,5% dari sebelumnya 4,5-4,7%. Revisi ini mencerminkan tekanan berkepanjangan terhadap imbal hasil kredit.

NIM konsolidasian juga diperkirakan turun menjadi 4,56%, melemah 32 bps dibandingkan tahun sebelumnya. Manajemen memperkirakan NIM akan mencapai titik terendah pada kuartal III-2026, sebelum kemudian pulih secara bertahap.