Detak.news — Pembangunan Stasiun Bekasi Ekstensi yang mengusung konsep Transit Oriented Development (TOD) telah resmi dimulai dengan upacara peletakan batu pertama. Proyek ini diharapkan dapat memperkuat konektivitas transportasi publik dan meningkatkan kenyamanan bagi para pengguna kereta api.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menjelaskan bahwa peresmian tahap awal pembangunan Stasiun Bekasi Ekstensi merupakan langkah strategis. Tujuannya adalah untuk memperkuat konektivitas sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi peningkatan aktivitas perekonomian masyarakat.
“Kami menyambut baik inisiatif ini. Hadirnya Stasiun Bekasi Ekstensi bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik. Harapannya menjadi kawasan yang semakin produktif mendukung mobilitas, kemudahan aktivitas masyarakat dan dikembangkan sesuai prinsip TOD Indonesia,” ujar AHY di Bekasi, Jawa Barat, Minggu (26/7/2026).
AHY menambahkan bahwa penguatan konektivitas akan berdampak pada kemudahan masyarakat dalam menjangkau tempat kerja, pusat pendidikan, layanan kesehatan, serta berbagai peluang usaha. Dengan demikian, manfaat pembangunan diharapkan dapat dirasakan secara lebih merata.
Konsep TOD, menurut AHY, tidak hanya menyediakan sistem transportasi publik yang terintegrasi, tetapi juga harus mampu menciptakan ruang baru untuk aktivitas ekonomi. Hal ini penting untuk memberikan dampak positif bagi pengembangan usaha, dunia bisnis, termasuk pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
“Buat apa kita memiliki konsep besar kalau tidak memberikan dampak ekonomi, membuka lapangan pekerjaan serta meningkatkan penghasilan dan daya beli masyarakat,” tegasnya.
Pembangunan infrastruktur ini mengintegrasikan akses penumpang dari Stasiun KRL Bekasi dan LRT Jabodebek, serta jaringan bus pengumpan dan jalur pejalan kaki. Hal ini dinilai efektif untuk mengalihkan mobilitas kendaraan pribadi menjadi moda transportasi umum.
AHY memastikan pemerintah memberikan perhatian serius terhadap pengembangan kawasan transportasi terpadu ini. Pihaknya terus mendorong peningkatan kolaborasi lintas sektor terkait agar manfaatnya dapat lebih luas dirasakan masyarakat.
“Kehadiran TOD Summarecon Stasiun Bekasi Ekstensi ini menjadi contoh nyata bagaimana sektor swasta dan pemerintah bekerja sama menciptakan tata ruang melalui efisiensi mobilitas warga,” jelasnya.
President Director PT Summarecon Agung Tbk, Adrianto P. Adhi, menyatakan rasa syukurnya atas kesempatan berkontribusi dalam menjawab kebutuhan masyarakat Bekasi melalui sinergi dengan pemerintah. Pihaknya berupaya meningkatkan layanan akses transportasi massal kereta api.
Stasiun Bekasi Ekstensi dikembangkan di atas lahan seluas 7.038 meter persegi dengan luas bangunan 6.733 meter persegi. Bangunan tiga lantai ini dilengkapi koridor penghubung dan Sky Bridge, serta memanfaatkan investasi swasta sekitar Rp80 miliar.
Pembangunan ini menandai fase awal pengembangan kawasan TOD yang akan dilanjutkan dengan jalur transportasi massal sepanjang lima kilometer, menghubungkan wilayah utara Kota Bekasi, kawasan Summarecon Bekasi, dan Stasiun LRT Jabodebek.
“Stasiun Bekasi Ekstensi dibangun untuk mencegah konsentrasi penumpukan, karena akan melayani penumpang dari arah barat dan selatan. Stasiun Bekasi eksis akan lebih banyak melayani dari arah utara dan timur. Inisiatif ini mendukung mobilitas lebih efisien, meningkatkan konektivitas serta menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih berkelanjutan,” pungkasnya.
Topang Lonjakan Penumpang
Wakil Menteri Perhubungan, Suntana, menilai pembangunan Stasiun Bekasi Ekstensi sebagai langkah strategis pengembangan jaringan perkeretaapian dan lompatan besar dalam mewujudkan kawasan berbasis TOD. Pembangunan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas tata ruang perkotaan serta mendorong masyarakat beralih ke transportasi massal.
“Melalui perluasan Stasiun Bekasi ini, kita sedang merajut masa depan konektivitas perkotaan yang lebih modern untuk menampung kenaikan kapasitas layanan dan integrasi antarmoda. Stasiun ini diharapkan dapat menampung lonjakan penumpang Commuter Line maupun kereta api jarak jauh dengan standar kenyamanan yang jauh lebih tinggi,” ujarnya.
Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah meresmikan layanan Bus Rapid Transit (BRT) di Kawasan Cekungan Bandung sebagai bagian dari Mass Transit Project (MASTRAN).
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menambahkan bahwa pembangunan transportasi yang digagas pemerintah telah bertransformasi menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Kebutuhan anggaran pun tidak lagi sepenuhnya bersumber dari APBN.
“Jadi apa yang kami lakukan semua, kita transformasi untuk seluruh sektor transportasi. Di Dukuh Atas TOD yang nantinya akan berbentuk cincin kita gandeng swasta dan Pemerintah Daerah DKI Jakarta, begitu juga untuk pembangunan Cekungan Bandung BRT. Adapun yang peresmian Stasiun Bekasi Ekstensi akan menjadi cikal bakal pengembangan TOD Summarecon melibatkan swasta,” kata Menhub belum lama ini.
Ia menambahkan bahwa pembangunan sarana dan prasarana transportasi ke depan harus berbasis kebutuhan, meminimalkan anggaran APBN, serta menggandeng pemangku kepentingan dari pemerintah daerah dan kalangan swasta.
Libatkan Pemangku Terkait
Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportrasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menekankan pentingnya pembangunan sektor transportasi di kawasan megapolitan untuk tidak melupakan kesenjangan antara pesatnya perkembangan kawasan dengan ketersediaan transportasi.
“Karena itu libatkan semua pemangku kebijakan terkait, termasuk akademisi menganalisis kebutuhan transportasi suatu daerah. Di sisi lain, pembangunan kawasan TOD yang ada saat ini memang harus dikejar terus, sebab memang sudah menjadi tren di kota-kota besar maju di dunia,” ungkapnya kepada Investor Daily.
Ia menuturkan, pembangunan kawasan TOD menjawab kebutuhan masyarakat akan transportasi dan hunian di wilayah perkotaan. Namun, keberadaannya harus dibarengi dengan akses yang layak.
“Jangan sampai nanti ketika TOD sudah ada, akses pejalan kaki, misalnya jadi terbengkalai. Hal-hal seperti ini juga harus diperhatikan,” ujarnya.
Djoko menambahkan, pembangunan kawasan TOD idealnya juga memanfaatkan transportasi lain melalui integrasi antarmoda. Ketersediaan transportasi lain, baik kereta, bus, LRT, MRT, maupun angkutan online, harus laik dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.