Detak.news — JAKARTA,IDX – Tiga saham berkapitalisasi pasar besar atau big cap langsung menjadi sasaran empuk investor asing dalam sepekan terakhir. Ketiga saham tersebut adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas yang diakses pada Minggu, 19 Juli 2026, saham-saham ini dinilai menarik karena memiliki return on equity (ROE) yang baik meskipun harganya sedang murah. Rasio Price to Earnings (PE) saham BMRI tercatat sebesar 7,1 kali (trailing twelve months/TTM). Sementara itu, rasio PE (TTM) untuk saham TPIA adalah 8 kali, dan ANTM sebesar 8,7 kali.
Perdagangan pada Jumat, 17 Juli 2026, menunjukkan pergerakan positif pada saham-saham tersebut. Saham BMRI ditutup menguat 3,9% ke level Rp 4.480. Saham TPIA juga mengalami penguatan sebesar 0,7% ke posisi Rp 1.945. Sementara itu, saham ANTM sedikit melemah 0,3% menjadi Rp 3.070.
Saham BMRI tercatat sebagai emiten yang paling banyak diburu investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama sepekan terakhir. Investor asing mencatatkan transaksi beli bersih atau net buy senilai Rp 557,1 miliar untuk saham BMRI pada periode 13-17 Juli 2026. Pembelian ini mayoritas terjadi di pasar reguler, mengacu pada data Stockbit Sekuritas.
Jumlah net buy asing pada saham BMRI ini merupakan yang terbesar dibandingkan saham lainnya. Posisi kedua ditempati oleh saham TPIA dengan net buy sebesar Rp 244 miliar, diikuti oleh ANTM dengan nilai Rp 237,4 miliar.
Secara keseluruhan, investor asing membukukan net buy sebesar Rp 442 miliar di seluruh pasar BEI dalam sepekan terakhir. Angka ini berbanding terbalik dengan pekan sebelumnya yang mencatat transaksi jual bersih atau net sell mencapai Rp 1,7 triliun.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Sementara itu, MNC Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk saham BMRI dengan target harga yang cukup tinggi, yaitu Rp 6.050. Target harga ini mencerminkan estimasi valuasi price to book value (PBV) sebesar 1,8 kali untuk tahun 2026 dan 1,7 kali untuk tahun 2027.
Bank Mandiri (BMRI) berhasil mencatatkan kinerja yang solid sepanjang Januari-Mei 2026. Laba bersih setelah pajak (bank only) mencapai Rp 23,3 triliun, menunjukkan pertumbuhan sebesar 19% secara tahunan atau year on year (yoy). Angka ini setara dengan 40% dari target laba BMRI tahun 2026 versi MNC Sekuritas dan secara umum masih sesuai ekspektasi.
“Pencapaian itu setara 40% dari target laba BMRI tahun 2026 versi MNC Sekuritas dan secara umum masih sejalan dengan ekspektasi,” tulis analis MNC Sekuritas, Victoria Venny dalam risetnya.
Pada bulan Mei 2026 saja, laba bersih setelah pajak (bank only) BMRI tercatat sebesar Rp 5,3 triliun. Angka ini meningkat 18% dibandingkan bulan sebelumnya (month on month/mom) dan 18% secara tahunan (yoy).
Laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) tumbuh 14% yoy menjadi Rp 31,9 triliun. Pertumbuhan ini didukung oleh kenaikan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar 10% yoy menjadi Rp 34,9 triliun, serta peningkatan pendapatan non-bunga atau non-interest income sebesar 12% yoy menjadi Rp 14,8 triliun.
Penyaluran kredit BMRI mengalami pertumbuhan 21% yoy mencapai Rp 1.580 triliun, melampaui pertumbuhan 16% yoy pada kuartal I-2026. Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) murah atau current account savings account (CASA) naik 12% yoy menjadi Rp 1.223 triliun.
“Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) tetap stabil di level 4,2%,” pungkas Victoria.
Ikuti Detak.news
