— JAKARTA – Laju pertumbuhan kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK) industri perbankan Indonesia diprediksi melambat pada paruh kedua tahun 2026. Perkiraan ini muncul dari hasil survei perbankan yang merevisi turun proyeksi kinerja di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global dan domestik.

Berdasarkan Survei Perbankan Triwulan II-2026 yang dirilis Bank Indonesia (BI), responden perbankan memprakirakan outstanding kredit hingga akhir tahun ini hanya akan tumbuh 7,51% secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini tercatat lebih moderat dibandingkan prakiraan responden pada survei sebelumnya yang memproyeksikan pertumbuhan kredit sebesar 8,06% (yoy).

Proyeksi tersebut juga lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit industri perbankan pada akhir 2025 yang mencapai 9,69% (yoy). Dari sisi penghimpunan dana, DPK pada akhir 2026 diperkirakan tumbuh sebesar 6,18% (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun 2025 yang mencapai 13,83% (yoy). Prakiraan pertumbuhan DPK ini juga mengalami moderasi dibandingkan periode survei sebelumnya yang memprediksi 8,47% (yoy).

Ekonom Senior & Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Ryan Kiryanto, menilai bahwa bank akan realistis jika merevisi turun Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026. Revisi ini menjadi langkah rasional di tengah melambatnya aktivitas ekonomi dan meningkatnya indikator pelemahan permintaan.

Ryan menjelaskan, penyesuaian target bisnis lebih baik dilakukan daripada mempertahankan target tinggi yang berisiko tidak tercapai. “Revisi ke bawah, dari pada nanti tidak tercapai. Prinsipnya under promising, over deliver,” ujarnya kepada Investor Daily.

Ia menyoroti sejumlah indikator ekonomi yang patut diwaspadai, seperti neraca perdagangan yang mulai defisit setelah sebelumnya surplus panjang. Aktivitas manufaktur juga melemah, tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) yang turun ke zona kontraksi. Indeks keyakinan konsumen pun menunjukkan tren penurunan, meski masih di atas level 100.

Tekanan di pasar tenaga kerja yang ditandai dengan maraknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) juga menjadi perhatian. Menurut Ryan, kondisi ini berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat dan permintaan kredit perbankan. “Trade balance mulai negatif, PMI turun ke level 40-an, indeks keyakinan konsumen juga mulai turun. Ditambah lagi isu PHK yang makin banyak. Itu semua menjadi sinyal perlambatan ekonomi,” tegas Ryan.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, sependapat bahwa revisi RBB cukup mungkin terjadi dalam kondisi yang menantang ini. Revisi terutama mungkin pada asumsi biaya dana, pertumbuhan kredit, komposisi DPK, dan kualitas aset. Ia memprediksi bank akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit.

Sektor-sektor yang kuat arus kasnya, berbasis ekspor, kebutuhan pokok, infrastruktur, dan pangan akan tetap didorong. Sebaliknya, kredit konsumsi berisiko tinggi, UMKM lemah, konstruksi spekulatif, dan sektor sensitif bunga akan lebih disaring. “Sinyal kehati-hatian sudah terlihat karena suku bunga kredit baru naik dari 8,95% pada April menjadi 9,31% pada Mei, meskipun rata-rata suku bunga kredit rupiah masih turun tipis,” tutur Josua.

Josua memproyeksikan pertumbuhan kredit 2026 masih bisa berada di kisaran 8-10%. Namun, mencapai batas atas target akan semakin sulit jika nilai tukar rupiah terus melemah dan BI Rate bertahan tinggi. Pertumbuhan DPK diprediksi berada di kisaran 8-10%, dengan tantangan kualitas karena lebih banyak ditopang deposito dan dana besar, bukan dana murah ritel. Biaya dana diperkirakan akan naik bertahap, terutama bagi bank menengah dan yang agresif menyalurkan kredit.

“Margin bunga bersih cenderung tertekan sekitar 20-40 bps karena bunga dana naik lebih cepat daripada kemampuan bank menaikkan bunga kredit. Rasio kredit bermasalah masih terkendali, tetapi berpotensi naik terbatas ke kisaran 2,4-2,7% karena tekanan cicilan, biaya usaha, dan perlambatan permintaan mulai terasa,” sambung Josua.

Intermediasi Kuartal III

Meskipun demikian, BI menilai aktivitas intermediasi perbankan pada paruh kedua tahun ini masih akan terus berlangsung. Pada triwulan III-2026, penyaluran kredit baru diperkirakan tetap tumbuh dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 84,65%, meski melambat dibandingkan SBT triwulan sebelumnya yang mencapai 93,08%.

Dari sisi komposisi, kredit modal kerja diprediksi masih menjadi prioritas utama penyaluran kredit baru, diikuti kredit investasi dan kredit konsumsi. Untuk segmen konsumsi, perbankan lebih banyak menyalurkan kredit multiguna, diikuti KPR/KPA dan kredit kendaraan bermotor. Secara sektoral, ekspansi kredit terbesar diperkirakan mengalir ke industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta sektor perantara keuangan.

Dalam kebijakan penyaluran kredit, hasil survei menunjukkan bank diperkirakan akan lebih melonggarkan standar pada triwulan III-2026. Hal ini tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) yang berada pada level minus 2,25, mengindikasikan pelonggaran dibandingkan triwulan sebelumnya.

“Standar penyaluran kredit yang longgar tersebut didorong oleh kredit investasi, KPR/KPA, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi lainnya. Kebijakan penyaluran kredit diprakirakan lebih longgar terutama pada aspek plafon kredit dan agunan,” tulis hasil survei perbankan.

Dari sisi pendanaan, penghimpunan DPK hingga triwulan III-2026 juga diperkirakan masih meningkat. Hal ini tercermin dari SBT sebesar 87,52%, relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 88,22%. Berdasarkan jenis simpanan, pertumbuhan diperkirakan terutama ditopang oleh tabungan dengan SBT 87,08% dan giro sebesar 76,38%, sedangkan deposito tetap tumbuh namun dengan SBT lebih rendah, yakni 40,97%.