— Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menunjukkan lonjakan signifikan di awal sesi perdagangan Selasa, 21 Juli 2026. Sekitar pukul 09.20 WIB, saham emiten Grup Sinar Mas ini melesat 5,52% ke level Rp 860.

Perdagangan saham DSSA mencatatkan volume 432,8 juta lembar, dengan frekuensi transaksi mencapai 26.653 kali dan nilai transaksi sebesar Rp 376,9 miliar. Data aplikasi Stockbit Sekuritas menunjukkan adanya net buy sebesar Rp 129,6 miliar pada saham DSSA, menjadikannya yang tertinggi di antara saham lain pada hari itu.

Lonjakan ini melanjutkan tren positif sebelumnya, di mana pada perdagangan Senin, 20 Juli 2026, saham DSSA juga menguat 1,88% dengan net buy investor asing Rp 11,53 miliar.

Perubahan arah bisnis DSSA menjadi fokus utama, dengan perusahaan yang tengah bertransformasi menjadi penyedia infrastruktur kecerdasan buatan (AI) terlengkap di Indonesia. Transformasi ini didukung oleh tiga pilar utama: dompet digital DANA dengan lebih dari 200 juta pengguna, pusat data hyperscale SMX01, dan portofolio energi panas bumi berkapasitas 480 megawatt (MW).

Tim Riset Pluang (Pluang Maju Sekuritas) dalam analisisnya pada Rabu, 1 Juli 2026, menyatakan bahwa era batu bara yang membangun fondasi DSSA kini akan digantikan oleh AI sebagai mesin pertumbuhan baru perusahaan.

Transisi dari Batu Bara ke Energi Hijau dan AI

Meskipun PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), anak usaha DSSA, masih menyumbang sekitar 86,4% dari total pendapatan perusahaan pada tahun buku 2025, strategi perusahaan kini berfokus pada pengalihan arus kas dari bisnis batu bara ke transisi energi hijau dan infrastruktur AI.

Strategi ini mencakup pengembangan kapasitas energi panas bumi hingga 480 MW pada 2029 di berbagai lokasi, serta pembangunan pabrik sel dan modul surya terintegrasi berkapasitas 1–2 gigawatt (GW) di Kawasan Industri Kendal. Pendapatan dari sektor panas bumi diproyeksikan melonjak drastis dari US$ 316,9 ribu pada FY25 menjadi US$ 83,7 juta pada FY30F.

Pluang memandang langkah ini sebagai reinvestasi strategis yang selaras dengan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Setiap dolar arus kas operasi batu bara yang diinvestasikan kembali ke energi panas bumi atau pusat data hyperscale diperkirakan akan memberikan nilai perusahaan 2,0–2,5 kali lebih tinggi.

Ekosistem AI Empat Lapis

Tesis investasi Pluang bertumpu pada ekosistem AI yang saling menguatkan dalam empat lapisan:

  • Energi: Sumber daya energi murah dan bebas karbon menjadi keunggulan kompetitif bagi pusat data. Energi panas bumi, sebagai sumber energi terbarukan baseload yang stabil dan nol karbon, memberikan keunggulan bagi DSSA, dengan estimasi penambahan pendapatan US$ 3,7–12,4 juta per tahun dari layanan ko-lokasi energi bebas karbon (CFE).
  • Konektivitas: Jaringan milik sendiri milik MoraRepublic (hasil merger Moratelindo dan MyRepublic) dengan 12,7 juta home pass dan 2,6 juta pelanggan ritel, menawarkan latensi rendah yang krusial untuk aplikasi AI. Jaringan fiber optik sendiri mampu menghantarkan latensi sekitar 3 milidetik (ms) ke SMX01, jauh di bawah rata-rata penyedia pihak ketiga.
  • Komputasi: Pusat data SMX01, yang ditargetkan menjadi satu-satunya pusat data Tier IV di CBD Jakarta sebelum 2028, akan mendukung hingga 2.400 rak GPU berkepadatan tinggi. Fasilitas ini, hasil patungan dengan LG CNS senilai lebih dari US$ 300 juta, dijadwalkan beroperasi komersial pada kuartal IV-2026. Selain itu, portofolio pusat data edge SM+ di 24 kota memperkuat posisi DSSA sebagai operator tunggal yang menawarkan solusi hyperscale dan edge.
  • Aplikasi: DANA, sebagai dompet digital nomor satu di Indonesia dengan jangkauan 78% populasi dewasa, menjadi mesin permintaan sekaligus benteng data AI. Dataset DANA yang komprehensif mencakup data pembayaran, lokasi, kredit, dan belanja, yang dinilai Pluang sebagai korpus pelatihan AI terlengkap di Indonesia yang sulit direplikasi.

Proyeksi Kinerja Keuangan

Bisnis-bisnis baru yang dikembangkan DSSA diproyeksikan memiliki margin yang lebih tinggi dan stabil dibandingkan bisnis batu bara. Pluang memproyeksikan margin bersih DSSA akan melebar dari 8,3% pada FY25 menjadi 13,6% pada FY30F. Pendapatan non-batu bara diperkirakan tumbuh dari US$ 303,1 juta pada FY25 menjadi US$ 1,7 miliar pada FY30F, sementara pendapatan segmen TV kabel, internet, dan teknologi akan meroket dari US$ 211,8 juta menjadi US$ 1,4 miliar pada periode yang sama.

Secara konsolidasi, pendapatan DSSA diproyeksikan naik dari US$ 2,79 miliar pada 2025 menjadi US$ 5,53 miliar pada 2030F, dengan laba bersih melompat dari US$ 230 juta menjadi US$ 752 juta. Pertumbuhan laba per saham (EPS) diperkirakan konsisten di kisaran 28–31% per tahun hingga 2030F.

Kontribusi XLSmart, hasil merger XL Axiata–Smartfren, juga diproyeksikan menjadi katalis positif. Operator seluler ini diperkirakan berbalik dari beban laba menjadi kontribusi positif pada FY27F, seiring terealisasinya sinergi biaya operasional.

Target Harga dan Risiko

Pluang menetapkan target harga Rp 1.145 per saham DSSA, dihitung menggunakan pendekatan sum-of-the-parts (SOTP) yang memadukan valuasi GEMS, energi panas bumi, XLSmart, MoraRepublic, pusat data SM+, DANA, hingga Rolimex, dengan total nilai perusahaan (EV) mencapai US$ 13,99 miliar.

Menurut Pluang, pasar saat ini masih keliru dalam memandang DSSA, karena saham ini diperdagangkan pada valuasi yang relatif murah dibandingkan dengan peers infrastruktur AI global. Potensi re-rating valuasi signifikan diperkirakan terjadi dalam tiga tahun ke depan.

Namun, Pluang juga mengingatkan adanya beberapa risiko. Pelemahan harga batu bara masih menjadi kerentanan laba jangka pendek, mengingat GEMS tetap menjadi mesin kas grup. Risiko lain meliputi implementasi sistem ekspor satu pintu, persetujuan regulasi operasi pusat data, linimasa pengembangan wilayah kerja panas bumi, serta lingkungan regulasi perusahaan patungan di Tiongkok.

Meskipun demikian, arah transformasi DSSA dinilai sudah jelas. Dengan bauran pendapatan yang bergeser ke pusat data dan energi terbarukan, narasi batu bara akan menyusut dan narasi infrastruktur AI akan mengembang. Struktur bisnis DSSA yang terintegrasi dalam ekosistem energi, konektivitas, komputasi, dan aplikasi memberikan peluang untuk menikmati re-rating valuasi yang signifikan di masa mendatang.