Detak.news — JAKARTA – Akamai mengumumkan kolaborasi strategisnya dengan World Wide Technology (WWT) sebagai mitra utama untuk kerangka kerja AI Readiness Model for Operational Resilience (ARMOR) milik WWT. Kemitraan ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara inovasi kecerdasan buatan (AI) dan kebutuhan keamanan yang krusial bagi perusahaan.
Melalui kolaborasi ini, Akamai akan menyediakan arsitektur keamanan dasar untuk “AI factory” yang dikembangkan oleh WWT dan dipercepat oleh NVIDIA. Seiring dengan meningkatnya adopsi AI, banyak perusahaan menghadapi tantangan keamanan yang dikenal sebagai “pajak keamanan”, di mana agen keamanan tradisional bersaing dengan beban kerja AI untuk mendapatkan sumber daya komputasi.
ARMOR dari WWT dirancang untuk mengatasi tantangan ini dengan mengintegrasikan kecerdasan perangkat lunak Akamai langsung ke dalam NVIDIA BlueField Data Processing Units (DPUs). ARMOR diklaim sebagai kerangka kerja keamanan AI holistik dan netral vendor pertama di industri. Berbeda dengan arsitektur lain yang sering terbatas pada platform cloud tertentu, ARMOR menawarkan cetak biru terstruktur yang mencakup enam domain penting: Tata Kelola, Risiko, dan Kepatuhan (GRC), Perlindungan Model, Operasi AI yang Aman, Keamanan Infrastruktur, Perlindungan Data, serta Sistem Pengembangan yang Aman (SDLC).
PJ Joseph, Executive Vice President, Global Sales and Services di Akamai, menyatakan bahwa sebelum adanya ARMOR, banyak organisasi terpaksa menyusun strategi keamanan yang terpisah-pisah. “Dengan menyelaraskan portofolio kami dengan kerangka kerja ini, kami menyediakan metodologi proaktif untuk mengisolasi kluster AI berskala besar dan mencegah pergerakan lateral ancaman tanpa mengorbankan kinerja yang dibutuhkan dalam pelatihan dan inferensi AI,” jelas Joseph dalam keterangannya, Minggu (19/7/2026).
Peran Akamai dalam kerangka kerja ARMOR berfokus pada tiga pilar strategis untuk membebaskan “pajak keamanan”. Pertama, dengan mengalihkan segmentasi Akamai Guardicore ke NVIDIA BlueField, lingkungan AI dapat beroperasi dengan efisiensi maksimal. Ini menciptakan lapisan penegakan tersendiri yang tetap berfungsi meskipun sistem operasi host disusupi, serta mempercepat upaya penanggulangan ransomware rata-rata sebesar 21,4%, bahkan mencapai 32,6% untuk perusahaan besar.
Kedua, mengamankan Agentic AI dan Data Lakes. Akamai API Security memantau “jaringan penghubung” AI, mencegah akses tidak sah ke data lakes yang berisi data sensitif dan menjadi sumber bagi large language models (LLMs).
Terakhir, pertahanan End-to-End. Dengan menggabungkan mitigasi DDoS dari Prolexic, Akamai menyediakan pertahanan berlapis-lapis terhadap serangan volumetrik yang dirancang untuk membebani arsitektur AI yang sangat penting.
Advanced Technology Center (ATC) milik WWT berfungsi sebagai tempat pengujian global untuk arsitektur AI. Dengan mengintegrasikan Akamai ke dalam model referensi ARMOR, WWT memastikan bahwa perusahaan dapat melampaui kepatuhan dasar untuk mencapai ketahanan siber yang sesungguhnya.
“Tidak ada satu vendor pun yang dapat mengamankan AI frontier sendirian,” ujar Chris Konrad, Global VP of Cybersecurity di WWT. “Melalui kemitraan erat dengan Akamai, kami mengubah antusiasme terhadap AI perusahaan yang aman menjadi kenyataan dan dapat terus ditingkatkan bagi para pelanggan,” tambahnya.
Ikuti Detak.news
