— JAKARTA – Prospek kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan pelaku pasar. Sikap Federal Reserve (The Fed) yang cenderung hawkish diperkirakan akan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global, mendorong investor untuk menerapkan strategi investasi yang lebih selektif.

Dalam pembaruan ‘House View Update’ terbaru, Allianz Global Investors (AllianzGI) memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar total 50 basis poin pada paruh kedua 2026. Proyeksi ini didorong oleh inflasi AS yang masih bertahan di atas target, sehingga bank sentral diperkirakan akan mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Kenaikan suku bunga AS berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung memperkuat dolar AS dan meningkatkan daya tarik aset-aset di AS, yang dapat mendorong arus keluar modal asing sementara di pasar saham negara berkembang.

“Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat memberikan tekanan terhadap IHSG, terutama pada sektor-sektor dengan kepemilikan investor asing yang tinggi dan sektor yang sensitif terhadap kondisi likuiditas global. Namun, volatilitas yang dipicu oleh faktor eksternal seperti perubahan kebijakan The Fed umumnya bersifat sementara dan tidak mengubah prospek jangka panjang pasar saham Indonesia,” ujar Head of Equity AllianzGI Indonesia Octavius Prakarsa dalam keterangan tertulisnya pada Kamis, (23/7/2026).

Octavius menambahkan bahwa Indonesia masih memiliki daya tarik dibandingkan banyak negara berkembang lainnya. Ketahanan ekonomi domestik, inflasi yang tetap terkendali, serta fundamental makroekonomi yang terus membaik menjadi faktor pendukung yang dapat menjaga kepercayaan investor.

Dalam kondisi pasar seperti ini, pendekatan investasi yang lebih selektif dan berfokus pada kualitas dapat menjadi pertimbangan bagi investor. Perusahaan yang memiliki kemampuan menghasilkan arus kas yang kuat, struktur neraca yang kuat, daya tawar dalam penetapan harga (pricing power), serta pertumbuhan laba yang berkelanjutan dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik saat kondisi keuangan yang semakin ketat.

“Di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, kemampuan memilih saham secara aktif menjadi semakin penting. Strategi active management memungkinkan investor mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang memiliki fundamental kuat, mampu beradaptasi terhadap perubahan siklus ekonomi, serta berpotensi menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dalam jangka panjang,” tambahnya.

Dari perspektif global, AllianzGI menilai terdapat sejumlah faktor yang mendukung kemungkinan Federal Reserve kembali mengambil sikap yang lebih hawkish dalam beberapa bulan ke depan. Salah satu faktor utamanya adalah inflasi inti di AS yang masih bertahan di atas target. Pada Mei 2026, inflasi inti Personal Consumption Expenditures (Core PCE) tercatat meningkat menjadi 3,4% secara tahunan, menunjukkan bahwa tekanan inflasi belum mereda meskipun suku bunga telah berada pada level yang relatif tinggi.

“Kami melihat pasar sempat terlalu optimistis bahwa pergantian kepemimpinan di Federal Reserve akan membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter. Namun, prioritas utama The Fed tetap memulihkan kredibilitas dalam menjaga stabilitas harga. Selama inflasi masih bertahan di atas target, kebijakan yang lebih ketat masih menjadi skenario yang paling mungkin,” tulis Tim CIO AllianzGI dalam House View Update berjudul “Fed Hikes Back in Focus“.

Ke depan, AllianzGI memperkirakan Federal Reserve akan mengedepankan pendekatan ‘first things first‘, yakni memastikan inflasi kembali terkendali sebelum berfokus pada agenda reformasi jangka panjang yang didukung peningkatan produktivitas. Pendekatan tersebut menjadi dasar proyeksi AllianzGI bahwa suku bunga acuan AS masih berpotensi naik sebesar total 50 basis poin pada paruh kedua 2026.