Detak.news — Pergerakan harga emas dunia memasuki fase krusial pada perdagangan hari ini. Para pakar menilai emas berpotensi mengalami koreksi jangka pendek setelah gagal menembus level resistance penting, meskipun prospek penguatan dalam jangka menengah masih tetap terbuka.
Harga emas terpantau menguat 0,04% ke level US$ 4.131,67 per ons troi saat berita ini ditulis. Secara year to date (ytd), harga emas telah mengalami penurunan sebesar 4,49%. Namun, jika dilihat secara tahunan (year on year/yoy), tercatat kenaikan sebesar 20,43%.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofi, mengatakan bahwa tekanan beli mulai kehilangan momentum. Hal ini membuat pasar berpeluang membentuk tren sekunder atau koreksi sementara sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.
Menurut Geraldo, secara teknikal, harga emas pada grafik time frame H4 masih berada dalam struktur bullish. Namun, harga terus tertahan di area US$ 4.135-4.148 per ons troi, yang merupakan level resistance penting.
“Kegagalan menembus area tersebut menunjukkan minat beli mulai melemah setelah reli yang cukup kuat. Kondisi ini membuka peluang terjadinya koreksi jangka pendek sebagai bagian dari penyeimbangan pasar,” ujar Geraldo dalam risetnya.
Geraldo memproyeksikan, area US$ 4.082-4.063 per ons troi sebagai level yang paling menentukan arah pergerakan emas selanjutnya.
Apabila harga turun ke kisaran tersebut dan muncul sinyal rejection atau terbentuk swing low, kondisi itu dinilai menjadi indikasi tekanan jual mulai mereda dan pembeli kembali mengambil kendali.
Oleh karena itu, investor disarankan untuk tidak terburu-buru melakukan pembelian saat harga masih berada di dekat resistance. “Menunggu konfirmasi terbentuknya pola bullish di area support akan memberikan rasio risiko dan potensi keuntungan yang lebih baik,” papar Geraldo.
Analisis Teknikal Harga Emas
Dari sisi indikator teknikal, Geraldo memaparkan bahwa stochastic mulai bergerak turun dari area overbought, yang menandakan momentum beli mulai melemah. Meskipun belum mengubah tren utama menjadi bearish, kondisi tersebut memperbesar peluang terjadinya koreksi dalam jangka pendek.
“Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas level US$ 4.148 per ons troi, skenario koreksi menuju area support masih menjadi proyeksi yang paling dominan,” jelas Geraldo.
Selain faktor teknikal, arah harga emas juga masih dipengaruhi sentimen fundamental, terutama ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Investor saat ini memilih bersikap wait and see menjelang sejumlah data ekonomi AS serta pernyataan pejabat The Fed yang diperkirakan akan memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga.
“Apabila data ekonomi AS tetap solid, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi akan semakin besar. Kondisi tersebut berpotensi menopang penguatan dolar AS dan membatasi kenaikan harga emas,” tegas Geraldo.
Sebaliknya, lanjutnya, jika inflasi mulai melandai atau data ekonomi menunjukkan perlambatan, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dapat kembali menguat dan menjadi katalis positif bagi logam mulia.
Menurut Geraldo, meredanya ketegangan geopolitik dalam beberapa waktu terakhir mengurangi permintaan terhadap aset safe haven, sehingga membuka ruang terjadinya aksi ambil untung (profit taking). Meski demikian, Geraldo mengingatkan, prospek jangka menengah emas masih dinilai positif selama harga mampu bertahan di atas area US$ 4.082-4.063 per ons troi.
“Jika dari level tersebut muncul sinyal pembalikan arah yang didukung peningkatan tekanan beli, harga emas diperkirakan berpeluang kembali melanjutkan tren bullish dalam beberapa sesi perdagangan mendatang,” tutup Geraldo.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.