— Harga emas kembali mencatat penguatan pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Kenaikan ini terjadi di tengah jeda eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang secara bersamaan mendorong harga minyak mentah ke level terendah dalam sepekan. Kondisi ini meredakan kekhawatiran inflasi menjelang pengumuman keputusan suku bunga oleh Federal Reserve.

Harga emas spot tercatat naik 0,5% menjadi US$ 4.074,22 per troy ounce pada pukul 13.45 waktu Amerika Serikat. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus ditutup menguat 0,2% ke level US$ 4.077,00 per troy ounce.

Menurut Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities, penurunan harga minyak dari kisaran US$ 100 per barel pada minggu lalu menjadi US$ 90 per barel, turut mendorong prospek penurunan suku bunga. “Pada dasarnya yang kita lihat adalah pasar minyak turun dari lebih dari US$ 100 minggu lalu menjadi US$ 90, dan ini mendorong prospek suku bunga lebih rendah,” ujarnya seperti dikutip dari CNBC International.

Harga minyak Brent berjangka mengalami penurunan lebih dari 8%, menyentuh level terendah dalam satu minggu. Hal ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengungkapkan sedang melakukan “pembicaraan yang baik dengan Iran saat ini”. Kedua negara dilaporkan menghentikan aksi serangan selama akhir pekan, memunculkan harapan akan tercapainya solusi diplomatik. Solusi tersebut dinilai dapat meredakan ketegangan dan memulihkan kelancaran pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Penurunan harga energi secara umum berkontribusi pada meredanya kekhawatiran inflasi. Hal ini juga mengurangi spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga dalam jangka waktu yang lebih lama. Meskipun emas kerap dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

Di sisi lain, data dari Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong yang dirilis pada Senin (27/7) menunjukkan bahwa impor emas bersih China melalui Hong Kong pada Juni 2026 meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut justru turun lebih dari 5% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. China, sebagai konsumen emas terbesar di dunia, mengimpor emas bersih sebanyak 50,679 metrik ton melalui Hong Kong pada Juni 2026. Angka ini naik dari 53,674 ton pada Mei 2026 dan melonjak signifikan dari 19,366 ton pada Juni 2025.