— Di tengah sentimen negatif yang menyelimuti pasar saham Indonesia pada semester pertama 2026, banyak pelaku pasar memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan terus melemah. Namun, Astronacci mengambil pandangan yang berbeda.

Berbagai proyeksi pesimistis bermunculan, termasuk target IHSG di kisaran 3.500–4.500 dan potensi pelemahan nilai tukar rupiah hingga Rp25.000 per dolar AS. Kekhawatiran ini diperkuat oleh ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Founder sekaligus CEO Astronacci International, Asst Prof Dr Gema Goeyardi, tampil berbeda dengan terus memberikan analisis terkini mengenai pergerakan IHSG di tengah pasar yang sedang lesu. Ia konsisten memberikan pembaruan analisis kapan IHSG akan berhenti naik dan turun.

“Sejak Mei 2026, baik dalam acara Stock Idea Festival dari Sucor Sekuritas (Sucorfest) maupun melalui berbagai analisis di kanal YouTube Astronacci, kami telah menyampaikan bahwa berdasarkan metode Astronacci Time & Price Analysis, apabila Januari menjadi peak, maka Juli 2026 berpotensi menjadi periode pembentukan big bottom IHSG, yang sekaligus membuka peluang dimulainya fase akumulasi dan pemulihan,” ungkap Gema Goeyardi dalam keterangannya, Kamis (23/7/2026).

Pandangan ini merupakan kelanjutan dari proyeksi sebelumnya. Sejak akhir tahun 2025, Gema Goeyardi memproyeksikan IHSG masih memiliki ruang penguatan menuju area 9.150–9.250. Proyeksi ini sejalan dengan optimisme Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang kala itu meyakini IHSG berpotensi mencapai level 9.000.

Namun, Gema juga mengingatkan bahwa setelah target atas tercapai, IHSG berpotensi memasuki fase koreksi besar untuk menutup sejumlah gap yang masih terbuka, terutama di area 6.000-an. Target 9.250 tidak dilihat sebagai akhir tren bullish, melainkan fase terakhir sebelum pasar memasuki siklus bearish yang lebih dalam. Proyeksi ini terealisasi ketika IHSG mencapai level 9.174 pada 20 Januari 2026, sebelum berbalik arah dan memasuki fase penurunan.

Melihat meningkatnya risiko global, termasuk memanasnya tensi geopolitik akibat serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Greenland, Gema kembali memberikan pembaruan melalui kanal YouTube Astronacci pada 12 Januari 2026. “Astronacci menegaskan bahwa target kenaikan IHSG telah mulai tercapai dan mengingatkan investor untuk bersiap menghadapi fase bearish, dengan peluang IHSG menutup gap di area 6.000-an,” paparnya.

Juni Boncos, Juli Cuan

Skenario tersebut berjalan sesuai proyeksi. IHSG memasuki fase pelemahan hingga akhir Juni 2026 dan menyentuh level terendah di 5.594.

Memasuki awal Juni, fokus analisis Astronacci bergeser dari potensi penurunan ke identifikasi waktu pembentukan bottom. Melalui kanal YouTube Astronacci pada 4 Juni 2026, Gema mulai menyampaikan estimasi periode bottoming IHSG. Meskipun indeks masih melanjutkan pelemahan, pada 8 Juni 2026, ia kembali memberikan pembaruan dan menyampaikan bahwa 9 Juni 2026 berpotensi menjadi reversal bottom, dengan target penguatan hingga sekitar 15 Juni 2026.

Skenario ini terkonfirmasi ketika IHSG mulai berbalik naik tepat pada 9 Juni dan melanjutkan penguatannya hingga 15 Juni 2026. Melalui pembaruan berikutnya pada 17 Juni 2026, Gema menyampaikan bahwa pelemahan yang masih terjadi merupakan fase akhir dari siklus bearish. Ia memberikan probabilitas sekitar 75% bahwa IHSG tidak akan turun lebih rendah dibandingkan bottom yang terbentuk pada 9 Juni, sehingga peluang terbentuknya higher low dinilai lebih besar.

Ketika tekanan jual kembali muncul pada akhir Juni, Gema kembali memberikan pembaruan melalui kanal YouTube Astronacci pada 1 Juli 2026. Dalam analisanya, ia mengimbau investor untuk tidak panik, karena IHSG telah memasuki fase akumulasi dengan target kenaikan menuju area 6.400 hingga 6.700.

Pandangan ini mempertegas proyeksi sejak Mei 2026 bahwa Juli adalah periode pembentukan big bottom IHSG, sehingga pelemahan yang terjadi dipandang sebagai fase akhir sebelum dimulainya siklus kenaikan berikutnya. Hingga 22 Juli 2026, proyeksi tersebut kembali sesuai dengan pergerakan pasar. Sejak update analisis pada 1 Juli, IHSG telah menguat sekitar 13%, memperkuat proyeksi big bottom Juli 2026 yang telah disampaikan Astronacci sejak Mei melalui berbagai media dan kanal YouTube.

Rangkaian proyeksi ini menunjukkan konsistensi pendekatan Astronacci Time & Price Analysis dalam membaca siklus pasar, mulai dari mengidentifikasi area puncak (market top), mengantisipasi fase koreksi, menentukan periode pembentukan dasar (bottom), hingga memetakan awal fase pemulihan. Di tengah dominasi sentimen negatif dan proyeksi pasar yang pesimistis, pendekatan berbasis time cycle dan price projection kembali memberikan pandangan yang berbeda, dengan hasil yang sejalan dengan dinamika pergerakan IHSG sepanjang 2026.

“Tentunya, ketika terjadi penurunan, IHSG akan menemukan kembali titik all time high-nya. Tentunya yang diingat, market merah ingat Astronacci. Investor yang tetap tenang dan tidak takut dengan ilmu yang telah kita bekali bisa selamat dari fase ini dan mendulang cuan,” ungkap Gema Goeyardi.