Detak.news — Bakti BCA kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan ekonomi desa wisata melalui program bertajuk Genera-Z Berbakti 2026. Program ini secara khusus akan menerjunkan empat tim mahasiswa terpilih ke empat desa wisata yang menjadi binaan Bakti BCA. Fokus utama pemberdayaan adalah pada penguatan ekonomi lokal, pengembangan sektor pariwisata, serta pelestarian warisan budaya.
Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menjelaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata upaya perusahaan dalam melahirkan solusi inovatif yang diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat desa.
“Saya yakin para peserta Genera-Z Berbakti telah merancang rencana yang matang dan didukung oleh ide-ide brilian. Para mahasiswa ini juga telah membuktikan diri memiliki karakter yang kuat serta kapabilitas yang dibutuhkan untuk berkontribusi di desa wisata binaan Bakti BCA,” ujar Hera dalam keterangan resminya pada Senin (20/7/2026).
Empat desa wisata yang akan menjadi lokasi implementasi program ini adalah Desa Wisata Kreatif Terong di Kabupaten Belitung, Desa Wisata Situs Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Desa Wisata Patakbanteng di Kabupaten Wonosobo, dan Desa Wisata Kakaskasen Dua di Kota Tomohon.
Sebelumnya, babak final Genera-Z Berbakti 2026 telah mempertemukan delapan tim mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi. Dalam tahap akhir tersebut, tim dari Universitas Indonesia (UI) dan BINUS University berhasil mempresentasikan gagasan inovatif mereka. Ide-ide tersebut mencakup pengembangan potensi Desa Wisata Kakaskasen Dua melalui pendekatan ekonomi kreatif, penguatan sektor pariwisata, hingga upaya regenerasi budaya.
Entertainer sekaligus sociopreneur, Cinta Laura Kiehl, yang turut hadir sebagai salah satu panelis, menekankan pentingnya kesiapan para mahasiswa dalam menghadapi kondisi riil di lapangan. Menurutnya, kesuksesan sebuah program tidak hanya diukur dari kualitas ide yang ditawarkan, tetapi juga dari kemampuan peserta dalam mengkomunikasikan gagasan mereka serta beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat setempat.
“Presentasi yang baik adalah ketika semua orang dapat memahami ide yang disampaikan. Namun, yang jauh lebih krusial adalah kesiapan peserta untuk menghadapi berbagai situasi yang mungkin muncul saat mereka berada di desa nanti,” tutur Cinta Laura.
Senada dengan itu, ilmuwan sekaligus wirausahawan sosial, Tri Mumpuni, berpendapat bahwa mahasiswa perlu membekali diri dengan kompetensi dalam pembangunan yang berpusat pada masyarakat. Hal ini penting agar program yang mereka jalankan dapat memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
“Mahasiswa harus mampu memahami kebutuhan masyarakat secara langsung, memiliki ketangguhan, integritas, serta keikhlasan dalam menjalankan program pengabdian ini,” pungkasnya.
Ikuti Detak.news
