— JAKARTA – Musim laporan keuangan semester I-2026 telah tiba, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu emiten yang paling dinanti perkembangannya oleh para investor. Jumlah investor saham BBCA terus menunjukkan tren peningkatan, tercatat per akhir Juni 2026 mencapai 797.115 pihak.

Sepanjang kuartal I-2026, BCA dan entitas anak berhasil membukukan pertumbuhan kredit yang positif di tengah dinamika ekonomi. Total kredit BCA tercatat naik 5,6% secara tahunan (yoy) menjadi Rp994 triliun per Maret 2026, sejalan dengan komitmen perseroan dalam mendukung perekonomian nasional. Penyaluran kredit ini didukung oleh pendanaan yang solid, di mana dana giro dan tabungan (CASA) mencapai Rp 1.089 triliun, tumbuh 11,2% yoy. Porsi CASA ini mendominasi sekitar 85,2% dari total dana pihak ketiga (DPK) BCA. Total laba BCA dan entitas anak sepanjang periode tersebut mencapai Rp 14,7 triliun.

Mengacu pada laporan keuangan kuartal I-2026, PT Bank Central Asia Tbk telah membagikan dividen interim termin pertama untuk tahun buku 2026 pada kuartal II, tepatnya 26 Juni 2026. Pembagian dividen interim ini mempertimbangkan soliditas kinerja perusahaan periode 1 Januari hingga 31 Maret 2026, serta komitmen perseroan untuk memberikan nilai tambah kepada para pemegang saham.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 12 Maret 2026, direksi perseroan menginformasikan bahwa untuk tahun buku 2026, apabila kondisi keuangan memungkinkan, direksi dengan persetujuan dewan komisaris dapat membagikan dividen interim hingga tiga kali dalam setahun, yang direncanakan akan dibagikan per kuartal. Dividen interim pertama tahun buku 2026 dibagikan sebesar Rp 2,45 triliun atau Rp 20 per saham. Pertanyaan pun mengemuka, akankah ada dividen interim kedua dari BBCA?

Sebagai perbandingan, pada tahun buku 2025, BBCA menyetor dividen sebanyak dua kali. Rinciannya, dividen interim sebesar Rp 6,77 triliun atau Rp 55 per saham, dan dividen final sebesar Rp 34,52 triliun atau Rp 281 per saham.

Rekomendasi dan Target Harga Saham

Sebelumnya, Samuel Sekuritas menyampaikan bahwa manajemen BBCA terus menjalankan strategi perbankan transaksional, strategi pendanaan berbasis CASA, dan basis korporasi dengan baik. Hal ini mendukung pertumbuhan laba yang stabil. Ke depan, manajemen memperkirakan pertumbuhan pinjaman pada tahun 2026 sebesar 10-11%, dengan Net Interest Margin (NIM) di kisaran 5,4-5,6%, dan biaya kredit 40-50 basis poin (bps). Angka ini dibandingkan dengan pertumbuhan pinjaman tahun buku 2025 sebesar 7,7% YoY, NIM 5,7%, dan biaya kredit 42 bps.

Samuel Sekuritas menyatakan, “Meskipun persaingan yang berkelanjutan untuk peminjam kelas atas dan imbal hasil aset yang lebih rendah tetap menjadi risiko jangka pendek, hal ini diimbangi oleh basis CASA BBCA yang dominan, pengendalian biaya yang disiplin, dan momentum pendapatan yang solid.”

Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk saham BBCA dengan target harga Rp 8.600. Target ini menyiratkan Price to Book Value (PBV) 3,4 kali untuk tahun 2026F, yang didukung oleh keberlanjutan Return on Equity (ROE) di atas 20%.

Pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026), saham BBCA berada di level Rp 6.275. Dengan demikian, terdapat potensi keuntungan sebesar 37% menuju target harga yang ditetapkan oleh Samuel Sekuritas.