— JAKARTA – Valuasi saham batu bara saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamentalnya, lantaran pasar masih mempertimbangkan ketidakpastian kebijakan. Meskipun demikian, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) tetap menjadi pilihan utama yang dijagokan oleh BRI Danareksa Sekuritas.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta, memperkirakan harga batu bara akan kembali normal pada semester II-2026, namun tidak akan mengalami penurunan drastis. Risiko penurunan harga batu bara dinilai akan tertahan oleh percepatan pemenuhan kewajiban pasar domestik dan preferensi pembeli untuk menjaga tingkat persediaan.

Data mingguan terbaru menunjukkan Indonesian Coal Index 3 (ICI3) mencapai US$ 84 per ton, sementara ICI4 sebesar US$ 64,6 per ton. Kedua indeks harga ini telah mencapai puncaknya pada Juni 2026 dan mulai mengalami penurunan moderat dalam beberapa pekan terakhir. Keseimbangan pasokan dan permintaan selama lima bulan pada 2026 tercatat lebih ketat, meskipun kondisinya belum sepenuhnya mencapai skala guncangan moderat.

“Revisi naik dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) berpotensi membuka tambahan pasokan pada semester II-2026,” tulis Erindra dan Kafi dalam riset mereka pada Rabu (22/7/2026). Persetujuan revisi RKAB menjadi variabel terpenting, dengan usulan yang telah diajukan pada awal Juli dan perkiraan terbit dalam waktu 1 hingga 1,5 bulan.

Risiko terkait Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) diperkirakan mereda, meskipun masih ada ketidakpastian mengenai komitmen pembeli untuk kontrak pada 2027.

Saham Pilihan Utama dan Target Harga

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan pendapatan perusahaan batu bara akan meningkat secara kuartalan (quarter on quarter/qoq) pada kuartal II-2026. Peningkatan ini didukung oleh kenaikan produksi, volume penjualan, dan harga ekspor.

“Tetapi, kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) batu bara kemungkinan tertinggal dibandingkan peningkatan harga indeks acuan karena porsi penjualan DMO (domestic market obligation) yang lebih besar,” jelas Erindra. Peningkatan biaya diperkirakan akan mengimbangi sebagian besar manfaat dari pertumbuhan pendapatan, terutama akibat kenaikan harga high speed diesel (HSD) domestik sebesar 35-40% qoq. HSD merupakan bahan bakar vital untuk operasional pertambangan.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan pandangan overweight untuk sektor batu bara, namun pandangan taktis 3 bulan diturunkan menjadi netral. Sektor ini diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) sebesar 6,1 kali, mengindikasikan pasar masih memperhitungkan ketidakpastian kebijakan dalam valuasi saham.

Dalam jangka pendek, kenaikan harga saham di sektor batu bara diperkirakan terbatas karena normalisasi harga komoditas dan potensi kinerja kuartal II-2026. “Kami tetap menyukai emiten yang memiliki katalis spesifik perusahaan, dukungan dividen, dan ruang aman dari sisi valuasi,” ungkap Erindra.

BRI Danareksa Sekuritas menetapkan saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sebagai pilihan utama di sektor batu bara, dengan rekomendasi beli. Target harga saham ditetapkan untuk AADI sebesar Rp 12.400 dan ITMG sebesar Rp 34.000.

“Titik masuk yang lebih menarik berpotensi muncul setelah publikasi kinerja kuartal II-2026. Namun, itu bergantung pada persetujuan revisi RKAB, berkurangnya risiko implementasi DSI, dan berlanjutnya pemulihan volume produksi pada semester II-2026,” pungkasnya.