Detak.news — JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk (BUMI), emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie dan Salim, tengah gencar melakukan transformasi bisnis. Perusahaan berupaya beralih dari fokus utama pada batu bara menjadi entitas pertambangan yang lebih terdiversifikasi.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mengamati bahwa BUMI sedang agresif dalam melakukan serangkaian akuisisi. Langkah ini mencakup akuisisi 100% saham Wolfram yang bergerak di bidang tembaga, ditargetkan selesai pada November 2025. Selain itu, akuisisi Jubilee untuk sektor emas pada Desember 2025, serta 45% saham Laman Mining yang memiliki cadangan bauksit sebesar 30 juta ton.
“Plus rencana akuisisi Loyal Metals di Australia senilai Rp 977 miliar untuk menambah eksposur di sektor tembaga dan emas,” papar BRI Danareksa Sekuritas dalam catatan analisnya, Senin (27/7/2026).
BRIDS juga mencatat adanya divestasi PT Citra Palu Mineral (CPM) ke PT Bumi Mineral Resources (BRMS) senilai Rp 151,99 miliar pada Juni 2026. Langkah ini bertujuan untuk merampingkan struktur perusahaan, meskipun CPM tetap berada dalam grup melalui BRMS. “Ini menjadi sinyal fokus pada aset jangka pendek yang menjadi kepentingan pengendali,” ujar BRIDS.
Menurut BRIDS, momentum aksi korporasi BUMI terbilang tepat. Hal ini didukung oleh harga emas yang menembus US$ 4.000 per troy ounce dan kondisi pasar tembaga yang mengalami ketat secara struktural. Kedua faktor tersebut menjadi pendorong positif bagi strategi diversifikasi BUMI.
Sementara itu, saham BUMI sendiri mengalami penurunan signifikan. Harga saham tercatat turun dari Rp 236 pada kuartal pertama 2026 menjadi kisaran Rp 175, atau terkoreksi 26%. BRIDS menilai penurunan ini mencerminkan sentimen negatif pada sektor batu bara yang melemah serta koreksi pada konglomerasi.
Pada harga Rp 175, saham BUMI diperdagangkan dengan rasio Price to Earnings (PE) 39x dan Price to Book Value (PBV) 2,3x. BRIDS berpendapat bahwa secara historis, valuasi saham BUMI saat ini relatif murah. PE historis BUMI pernah mencapai lebih dari 500x, dengan rata-rata 3 tahun terakhir berada di 159x.
“PE 39x saat ini mengindikasikan normalisasi ke level yang rasional setelah kemampuan laba (earnings power) BUMI kembali berkelanjutan dan restrukturisasi utang selesai,” ujar BRIDS.
BRIDS menyimpulkan bahwa narasi bisnis BUMI kini tidak lagi hanya bertumpu pada pemulihan harga batu bara. Perusahaan tengah bertransformasi menjadi platform pertambangan terdiversifikasi dengan portofolio yang mencakup tembaga, emas, bauksit, dan batu bara. “Timing akuisisi mineral di tengah harga emas dan tembaga yang tinggi merupakan langkah strategis,” pungkas BRIDS.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.