Detak.news — JAKARTA – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi salah satu instrumen yang banyak dilepas investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sepekan terakhir. Namun, menariknya, aksi jual tersebut justru dibarengi dengan lonjakan harga saham BUMI.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) saham BUMI senilai Rp 125,1 miliar selama periode 20-24 Juli 2026 di pasar reguler BEI. Pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026), saham BUMI ditutup anjlok 6,5% ke level Rp 171.
Meskipun mengalami penurunan pada akhir pekan, saham emiten Grup Bakrie dan Salim ini tercatat melonjak 14% selama sepekan. Jika dilihat dalam satu bulan terakhir, saham BUMI menguat 2,4%. Namun, secara year-to-date (ytd), BUMI masih tertekan hingga 53,2%.
Secara keseluruhan, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 3,3 triliun di seluruh pasar BEI dalam sepekan terakhir. Angka ini berbanding terbalik dengan pekan sebelumnya yang mencatat net buy sebesar Rp 442 miliar.
Sebelumnya, saham BUMI sempat menunjukkan reli kuat menjelang pengumuman laporan keuangan kuartal II-2026. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan perhatian investor terhadap prospek kinerja operasional perusahaan, sekaligus perkembangan strategi diversifikasi bisnisnya.
Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menjelaskan bahwa pasar mulai memperhitungkan potensi kontribusi aset non-batu bara BUMI yang telah memasuki tahap produksi. Investor tidak hanya melihat stabilitas kontribusi kinerja batu bara sebagai bisnis inti, tetapi juga perkembangan strategi diversifikasi BUMI ke mineral strategis.
“Investor tidak hanya melihat stabilitas kontribusi kinerja batu bara sebagai bisnis inti perseroan, tetapi juga melihat bahwa strategi diversifikasi BUMI ke mineral strategis bukan lagi sekadar rencana, tetapi sudah memasuki fase operasional,” ujar Aditya.
Melalui anak usahanya, Wolfram Limited di Australia, BUMI telah memulai pengembangan tambang Mt Carlton yang menghasilkan emas, perak, dan tembaga. Operasi tambang terbuka di area V2 menjadi sumber produksi utama sejak April 2026, sementara aktivitas penambangan bawah tanah di area A39 telah dimulai untuk mengakses bijih dengan kadar lebih tinggi.
Seluruh konsentrat dari Mt Carlton akan dipasarkan kepada Glencore melalui perjanjian offtake selama tujuh tahun. Kontrak ini memberikan kepastian pembeli dan memperkuat visibilitas komersial proyek.
Strategi diversifikasi ini diharapkan dapat membentuk komposisi EBITDA BUMI yang lebih seimbang antara bisnis batu bara dan non-batu bara pada tahun 2031.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.