— Harga emas berpotensi mendekati titik terendahnya dalam tiga tahun terakhir. Para manajer investasi global menilai logam mulia ini kini berada pada level yang paling murah atau undervalued sejak Maret 2023. Penilaian ini muncul seiring dengan penguatan harga emas sebesar 3,5% dalam dua hari terakhir, setelah berhasil bertahan di area support US$ 3.900 hingga US$ 4.000 per ons.

Berdasarkan hasil survei BofA Global Fund Manager edisi Juli dari Bank of America, yang melibatkan 181 manajer institusional mengelola aset senilai US$ 484 miliar, sebanyak 6% secara bersih (net) kini menganggap harga emas berada di bawah nilai wajarnya. Survei ini dipublikasikan oleh BeInCrypto pada Kamis, 23 Juli 2026.

Perubahan sentimen ini tergolong dramatis. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, survei yang sama mencatat lebih dari 40% manajer investasi menganggap emas terlalu mahal (overvalued) saat harganya menembus rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 5.598 per ons pada Januari 2026. Namun, koreksi tajam sekitar 26% dari rekor tersebut telah membawa emas masuk ke zona pasar lesu (bear market) sebelum akhirnya menunjukkan tanda-tanda berbalik arah.

Sebagai perbandingan, pada Maret 2023, ketika indikator serupa muncul, harga emas yang saat itu berada di bawah US$ 2.000 berhasil melesat hampir tiga kali lipat hingga mencapai puncaknya pada awal tahun ini.

Sinyal Rotasi Aset dan Analisis Teknikal

Survei BofA juga menyoroti penurunan tingkat simpanan kas manajer investasi, dari 4,1% menjadi 3,6%. Menurut aturan kas BofA, angka di bawah 4% merupakan sinyal jual untuk aset berisiko tinggi seperti saham, terutama saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) yang dinilai mulai jenuh (overcrowded).

Dalam situasi ini, emas yang posisinya tidak terlalu padat investor berpotensi menjadi target rotasi modal. Dari sisi teknikal, harga emas ditutup menguat ke level US$ 4.148 per ons pada Rabu. Penguatan ini dipicu oleh aksi beli di area support penting US$ 3.900 hingga US$ 4.000, yang bertepatan dengan level Fibonacci retracement 0,5 di US$ 3.943.

Indikator Relative Strength Index (RSI) harian juga mulai naik ke angka 52, menunjukkan pemulihan momentum pasar. Meski demikian, struktur jangka panjang emas masih berada dalam tren penurunan (bearish). Harga emas masih tertahan di bawah garis tren menurun (descending trendline) yang ditarik dari rekor tertingginya.

Jika mampu menembus garis tren menurun tersebut, emas berpeluang menuju area resistance US$ 4.300 hingga US$ 4.400. Sebaliknya, jika gagal bertahan, harga emas berisiko merosot kembali ke area golden pocket di kisaran US$ 3.552.

Faktor Penggerak Pasar Emas

Volatilitas harga emas sepanjang tahun ini dipengaruhi oleh pergeseran ekspektasi suku bunga The Federal Reserve (The Fed) serta eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Pertikaian bersenjata antara AS dan Iran yang sempat memanas telah mendorong lonjakan harga minyak mentah di atas US$ 90 per barel, yang kembali memicu kekhawatiran inflasi global.

Di sisi lain, ketidakpastian mengenai keputusan suku bunga The Fed, dengan spekulasi kenaikan suku bunga pada September 2026, serta wacana gencatan senjata antara AS dan Iran menjadi katalis utama yang akan menentukan arah pergerakan harga emas selanjutnya.