Detak.news — JAKARTA – Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), salah satu emiten Grup Sinar Mas, menjadi sasaran utama pembelian investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (21/7/2026). Transaksi beli bersih (net buy) saham DSSA oleh investor asing tercatat mencapai Rp 263,6 miliar di pasar reguler, berdasarkan data Stockbit Sekuritas.
Jumlah net buy asing pada saham DSSA ini merupakan yang terbesar dibandingkan saham lainnya pada hari itu. Posisi kedua ditempati oleh saham PT Antam Tbk (ANTM) dengan net buy asing sebesar Rp 91,7 miliar.
Sebaliknya, investor asing justru mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) terbanyak pada saham PT Astra International Tbk (ASII) senilai Rp 61,3 miliar, diikuti oleh saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan net sell Rp 51,9 miliar.
Secara keseluruhan, investor asing membukukan net buy Rp 30,7 miliar di seluruh pasar BEI pada Selasa tersebut. Dengan demikian, total net sell asing sepanjang tahun berjalan hingga tanggal tersebut mencapai Rp 75,5 triliun, menurut data BEI.
Pergerakan positif saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) ini terjadi setelah emiten tersebut didepak dari indeks MSCI Global Standard. Kalangan analis memandang prospek kinerja DSSA sangat menjanjikan, sehingga membuat para broker memberikan pandangan positif terhadap saham emiten Grup Sinar Mas ini.
Sucor Sekuritas menjelaskan bahwa DSSA berperan sebagai konsolidator bisnis telekomunikasi dan teknologi Grup Sinar Mas. Saat ini, DSSA berupaya mengurangi ketergantungan pada bisnis batu bara PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS).
“Rencana DSSA mengambil 35% saham PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) di harga Rp 523 per saham menggambarkan arah kebijakan untuk masuk ke rantai nilai sektor infrastruktur telekomunikasi,” tulis Sucor dalam risetnya.
Ekspansi Bisnis DSSA
Selain itu, DSSA juga telah membentuk perusahaan patungan dengan First Gen untuk mengembangkan proyek pembangkit listrik geotermal berkapasitas 460 megawatt (MW). Proyek ini ditargetkan memulai operasi komersial pada tahun 2020, dengan perkiraan nilai bersih proyek (net present value) mencapai US$ 895 juta dan IRR 11%.
Langkah ekspansi ke bisnis telekomunikasi, teknologi, dan geotermal diprediksi akan meningkatkan nilai pasar yang dapat digarap DSSA secara signifikan. Nilai pasar ini diperkirakan melonjak dari US$ 33 miliar menjadi US$ 76 miliar.
Sucor Sekuritas memproyeksikan pertumbuhan pendapatan (CAGR) DSSA mencapai 11% pada periode 2025-2030, dengan estimasi pendapatan US$ 4,7 miliar. Laba bersih diprediksi tumbuh 27% menjadi US$ 749 juta, atau setara dengan Rp 13,3 triliun.
Berdasarkan analisis tersebut, Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk saham DSSA dengan menetapkan target harga Rp 990.
Ikuti Detak.news
