Detak.news — JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat melemah 0,38% ke level Rp 6.500 pada penutupan perdagangan Rabu (22/7/2026). Meskipun ada sedikit pelemahan, investor asing terus memborong saham ini dengan catatan net buy tipis-tipis.
Total saham Bank Central Asia yang diperdagangkan mencapai 112,18 juta unit dengan frekuensi transaksi sebanyak 27.687 kali, menghasilkan nilai transaksi sebesar Rp 724,47 miliar. Investor asing mencatatkan net buy senilai Rp 17,94 miliar pada hari tersebut.
Dalam tiga hari perdagangan terakhir, yaitu pada 20 hingga 21 Juli 2026, net buy investor asing di saham BBCA cenderung stabil di bawah Rp 20 miliar per hari. Namun, pada Jumat (17/7/2026) pekan sebelumnya, net buy investor asing pada saham emiten bank besar ini sempat melonjak signifikan hingga mencapai Rp 698,29 miliar.
Secara akumulatif dalam sepekan terakhir, saham Bank Central Asia berhasil menguat 6,12%, didukung oleh net buy investor asing yang mencapai Rp 934,82 miliar.
Kinerja Keuangan BBCA Kuartal I-2026
Kinerja laba bersih BBCA pada kuartal I-2026 menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 3,8% secara tahunan (year-on-year/YoY) dan 3,8% secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ), mencapai Rp 14,7 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan pendapatan non-bunga dan manajemen biaya yang disiplin, meskipun net interest margin (NIM) mengalami penurunan menjadi 5,4%.
Pertumbuhan kredit BBCA tercatat melambat, namun sektor pendanaan tetap menunjukkan kekuatan. Total kredit mencapai Rp 993,8 triliun, naik 5,6% YoY dan 0,1% QoQ. Peningkatan ini didorong oleh segmen kredit korporasi, komersial, dan Usaha Kecil Menengah (UKM).
Dana pihak ketiga dalam bentuk current account saving account (CASA) tetap solid di angka Rp 1.089 triliun, meningkat 11,2% YoY. “Ini memperkuat keunggulan BBCA dalam memperoleh sumber pendanaan berbiaya rendah,” tulis Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam risetnya yang dikutip pada Jumat (17/7/2026).
Kualitas Aset dan Rekomendasi Analis
Kualitas aset BBCA terpantau masih terkendali. Gross non-performing loan (NPL) tercatat sebesar 1,8%, sementara loan at risk (LAR) berada di level 5,1%. Cost of credit (CoC) mengalami kenaikan menjadi 0,6%. “Itu mencerminkan sikap BBCA yang lebih berhati-hati dalam mengantisipasi potensi risiko kredit,” jelas Liza.
Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA. Analisis valuasi saham dilakukan menggunakan pendekatan gabungan yang mengombinasikan metode price to book value (P/BV) dan dividend discount model (DDM).
Berdasarkan metode tersebut, Kiwoom Sekuritas menetapkan target harga saham BBCA untuk 12 bulan ke depan sebesar Rp 8.075. Target harga ini mencerminkan proyeksi P/BV 2026 sebesar 3,3 kali, sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata P/BV tiga tahun terakhir yang mencapai 3,4 kali.
Risiko utama yang perlu diwaspadai adalah berlanjutnya tekanan pada NIM, pertumbuhan kredit yang lebih lambat dari perkiraan, serta kondisi ekonomi makro yang kurang mendukung.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.