— Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami pelemahan tipis 0,40% menjadi Rp 6.250 pada penutupan sesi I perdagangan Senin, 27 Juli 2026. Meskipun demikian, investor asing terpantau melakukan aksi beli atau net buy saham BBCA dengan volume 11,26 juta saham senilai sekitar Rp 70,30 miliar.

Analis Phintraco Sekuritas merekomendasikan strategi buy on support untuk saham BBCA pada pekan ini, dengan menyarankan titik masuk di kisaran Rp 6.150. Target harga pertama diproyeksikan mencapai Rp 6.550, diikuti target kedua di Rp 6.800. Namun, investor disarankan untuk memasang stoploss jika harga saham turun di bawah level Rp 6.000.

Menjelang musim laporan keuangan semester I-2026, kinerja PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu yang paling dinanti. Per akhir Juni 2026, jumlah investor saham BBCA tercatat mencapai 797.115 pihak, menunjukkan peningkatan minat investor.

Dalam laporan keuangan kuartal I-2026, BCA dan entitas anak berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 5,6% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 994 triliun per Maret 2026. Pertumbuhan ini sejalan dengan komitmen perseroan dalam mendukung perekonomian nasional. Pendanaan yang solid didukung oleh dana giro dan tabungan (CASA) sebesar Rp 1.089 triliun, yang tumbuh 11,2% yoy dan mendominasi 85,2% dari total dana pihak ketiga (DPK).

Total laba bersih BCA dan entitas anak pada kuartal I-2026 mencapai Rp 14,7 triliun. Mengacu pada laporan tersebut, BCA telah membagikan dividen interim pertama tahun buku 2026 pada kuartal II, tepatnya 26 Juni 2026. Pembagian dividen ini mempertimbangkan kinerja keuangan perusahaan yang solid dan komitmen untuk memberikan nilai tambah kepada pemegang saham.

Berdasarkan mata acara RUPS tahunan pada 12 Maret 2026, direksi BCA menginformasikan kemungkinan pembagian dividen interim sebanyak tiga kali pada tahun 2026, yang direncanakan dibagikan per kuartal, apabila kondisi keuangan memungkinkan. Dividen interim pertama tahun buku 2026 dibagikan sebesar Rp 2,45 triliun atau Rp 20 per saham. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai potensi pembagian dividen interim kedua dari BBCA.

Sebagai perbandingan, pada tahun buku 2025, BBCA menyetor dividen dua kali. Pertama, dividen interim sebesar Rp 6,77 triliun atau Rp 55 per saham, dan kedua, dividen final senilai Rp 34,52 triliun atau Rp 281 per saham.