Detak.news — Teheran telah menerima usulan mediasi dari berbagai pihak untuk meredakan ketegangan yang kembali meningkat dengan Amerika Serikat. Saat ini, proposal tersebut tengah ditinjau oleh otoritas Iran, yang menegaskan komitmennya pada jalur diplomasi di tengah aksi saling serang yang masih berlangsung.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeli Baqaei, menyampaikan bahwa para mediator terus berupaya mencegah eskalasi konflik. “Kami telah menerima usulan tersebut melalui pihak mediator, tetapi kami belum bisa membahas detailnya pada tahap ini,” ujar Baqaei dalam konferensi pers yang disiarkan oleh IRIB, Senin (20/7/2026). Ia menegaskan bahwa diplomat Iran bekerja selaras dengan angkatan bersenjata.
“Di saat angkatan bersenjata kami menanggapi sumber agresi Amerika secara tegas dan cepat, lini diplomasi kami juga sepenuhnya menyadari tugasnya dan tidak akan mengabaikan upaya apa pun untuk mencapainya,” tegas Baqaei.
Bantah Klaim Donald Trump
Selain merespons usulan mediasi, Baqaei menambahkan bahwa Iran bekerja sama dengan Oman untuk menjaga kedaulatan penuh dan mengantisipasi ancaman keamanan di Selat Hormuz. Pihak Iran secara tegas menepis klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran telah membebaskan seorang warga negara Amerika yang ditahan atas tuduhan spionase.
Mengulang pernyataan resmi dari lembaga peradilan Iran, Baqaei menegaskan tidak ada tahanan Amerika yang sesuai dengan deskripsi Trump yang telah dibebaskan. “Individu yang dimaksud bukanlah tahanan dan tidak pernah didakwa atas tuduhan spionase,” jelas Baqaei.
Sebelumnya, Trump mengklaim di platform Truth Social bahwa Iran telah membebaskan seorang warga AS yang ditahan sejak Desember 2024, serta menyampaikan apresiasinya atas apa yang ia sebut sebagai isyarat niat baik dari Iran.
Pernyataan saling silang ini mengemuka di tengah terus berlangsungnya kontak senjata antara militer Iran dan AS. Padahal, kedua negara sempat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi oleh Pakistan bulan lalu untuk mengakhiri konflik dan menuju kesepakatan damai jangka panjang.
Ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas menyusul eskalasi militer di kawasan strategis Timur Tengah, khususnya di sekitar jalur pelayaran vital Selat Hormuz. Kesepakatan gencatan senjata yang rapuh tersebut kembali goyah akibat serangkaian insiden saling serang di lapangan, isu keamanan jalur perdagangan minyak dunia, serta silang pendapat mengenai penahanan warga negara asing yang membuat rumit konstelasi geopolitik kedua belah pihak.
Ikuti Detak.news
