— Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengumumkan bahwa negaranya mendeteksi peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Menanggapi situasi ini, Iran telah bersiap dalam kondisi siaga penuh dan menyiapkan langkah-langkah antisipasi yang diperlukan.

Pernyataan Ghalibaf muncul setelah laporan harian Washington Post pada Selasa (21/7/2026) yang mengindikasikan AS sedang mempersiapkan aksi militer skala besar terhadap Iran, sekaligus memperkuat pangkalan militer mereka di wilayah tersebut. “Amerika secara terus-menerus membawa peralatan militer baru ke kawasan ini sambil mengeklaim mereka berusaha menghentikan perang. Kami sangat memahami pola permainan AS dan kami telah bersiap menghadapi segala kemungkinan,” ujar Ghalibaf melalui unggahan di platform media sosial X pada Senin (20/7/2026).

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, senada dengan Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya saat ini berada dalam situasi perang skala penuh menghadapi ancaman yang terus meningkat.

Ketegangan Memuncak Pasca-Pelanggaran Gencatan Senjata

Ketegangan di kawasan ini sempat mereda ketika Iran dan AS menandatangani memorandum kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah meluas sejak 28 Februari 2026. Namun, kesepakatan damai tersebut tidak bertahan lama.

Sejak 8 Juli 2026, pasukan AS kembali melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim aksi militer tersebut merupakan respons atas tindakan Iran yang dianggap mengganggu dan mengancam keselamatan kapal-kapal komersial di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia.

Gempuran balasan dari pasukan militer Iran menyasar sejumlah pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah. Menanggapi aksi saling balas ini, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran resmi tidak berlaku lagi.

Eskalasi Hubungan Diplomatik dan Militer

Hubungan diplomatik dan militer antara AS dan Iran telah mengalami eskalasi tinggi selama beberapa dekade. Ketegangan kerap dipicu oleh isu program nuklir Iran, sanksi ekonomi global, serta persaingan pengaruh geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Selat Hormuz secara historis menjadi titik panas utama dalam konflik ini. Jalur perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut merupakan urat nadi perdagangan energi global, di mana sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia melintas setiap harinya.

Setiap gangguan keamanan atau aksi militer di Selat Hormuz berpotensi memicu krisis energi global dan guncangan ekonomi dunia. Eskalasi terbaru ini menandai kegagalan upaya diplomasi pasca-penandatanganan kesepakatan damai sementara. Dengan batalnya gencatan senjata oleh Trump serta keterlibatan langsung kekuatan militer kedua negara melalui serangan balasan di pangkalan strategis, kawasan Timur Tengah kini kembali diuji oleh ancaman konflik bersenjata terbuka yang meluas.