Detak.news — JAKARTA – Pendampingan kesehatan pasca-keluar dari ruang perawatan intensif sangat krusial, terutama bagi bayi dan anak yang pernah menjalani perawatan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) atau Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Pemantauan lanjutan ini penting untuk memastikan pertumbuhan, perkembangan, status gizi, imunisasi, serta kondisi organ anak sesuai tahapan usianya.
Orang tua juga perlu dibekali edukasi agar mampu mengenali tanda bahaya dan mengetahui kapan harus segera membawa anak ke fasilitas kesehatan. Hal ini mengemuka dalam sesi “Golden Memories and Pediatric Emergency Center: Merajut Kasih Ibu dan Anak Bersama Primaya Evasari Hospital,” di Jakarta.
Acara yang digelar dalam rangka 50 tahun Primaya Evasari Hospital ini mempertemukan kembali anak-anak yang pernah dirawat di NICU dan PICU dengan tim dokter dan tenaga kesehatan yang mendampingi mereka saat kritis. Kegiatan ini dihadiri sekitar 30 keluarga atau lebih dari 120 peserta.
Selain menjadi ajang reuni, acara tersebut juga diisi dengan edukasi mengenai perawatan bayi baru lahir, kesehatan saluran cerna, jantung anak, tumbuh kembang, serta penanganan kondisi kegawatdaruratan.
Pendampingan Sejak Dini dan Pengenalan Tanda Bahaya
Dokter spesialis anak Primaya Evasari Hospital, dr. Desy Dewi Saraswati, Sp.A., menekankan bahwa masa bayi adalah periode penting yang memengaruhi tumbuh kembang anak di tahap berikutnya. Menurutnya, pendampingan kesehatan perlu dimulai sejak awal kehidupan, mencakup perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI eksklusif, imunisasi, dan pemantauan tumbuh kembang berkala.
“Melalui edukasi yang tepat, orang tua diharapkan semakin percaya diri dalam merawat anak dan mampu mengenali kapan harus segera mencari pertolongan medis,” ujar dr. Desy.
Ia juga menguraikan sejumlah tanda darurat yang perlu diwaspadai orang tua pada bayi dan anak. Tanda-tanda tersebut meliputi kesulitan bernapas, kejang, penurunan kesadaran, tubuh membiru, demam disertai kondisi sangat lemah, muntah terus-menerus, serta anak yang tidak mau minum.
“Pada bayi baru lahir, pertolongan medis juga perlu segera dicari apabila bayi tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, mengalami gangguan menyusu, suhu tubuh terlalu tinggi atau terlalu rendah, serta menunjukkan perubahan warna kulit. Pemeriksaan dini dapat membantu tenaga medis menentukan penyebab keluhan sekaligus mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat,” jelasnya.
Pentingnya Pemantauan Jangka Panjang
Pemantauan jangka panjang juga sangat penting bagi bayi yang lahir prematur atau memiliki berat lahir rendah. Mereka berisiko menghadapi gangguan pertumbuhan, perkembangan saraf, penglihatan, pendengaran, pernapasan, maupun kesulitan makan. Oleh karena itu, jadwal kontrol dan pemantauan perlu disesuaikan dengan kondisi spesifik masing-masing anak.
Dukungan Keluarga sebagai Kunci Pemulihan
CEO Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, mengungkapkan bahwa pelayanan kesehatan anak tidak boleh berhenti setelah pasien diperbolehkan pulang. Pendampingan berkelanjutan bersama keluarga sangat penting untuk memantau proses pemulihan dan tumbuh kembang anak.
“Keterlibatan keluarga menjadi bagian penting dalam perawatan anak karena orang tua adalah pihak yang paling sering mengamati perubahan kondisi anak di rumah,” kata Leona.
Direktur Primaya Evasari Hospital, dr. Wily Kurniady, MARS, menambahkan bahwa pemulihan anak pasca-perawatan intensif bisa menjadi proses panjang yang membutuhkan dukungan medis dan emosional. “Setiap anak yang pernah dirawat di PICU maupun NICU memiliki perjalanan pemulihan yang berbeda. Karena itu, pendampingan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak dan keluarganya,” tuturnya.
Pendekatan yang berpusat pada keluarga atau family-centered care menempatkan orang tua sebagai mitra tenaga kesehatan. Melalui pendekatan ini, keluarga dilibatkan dalam pengambilan keputusan, memperoleh informasi yang memadai, serta dibekali pengetahuan untuk melanjutkan perawatan di rumah.
Salah satu keluarga yang hadir berbagi pengalaman merawat bayi prematur dengan berat lahir 1.200 gram. Kondisi bayi sempat memburuk hingga berat badan turun menjadi sekitar 900 gram dan harus menjalani perawatan intensif di NICU. Namun, setelah melalui perawatan dan pemantauan lanjutan, anak tersebut kini tumbuh sehat dan aktif.
Kisah ini menegaskan bahwa keberhasilan perawatan bayi prematur tidak hanya ditentukan oleh penanganan di rumah sakit. Kontrol rutin, pemenuhan nutrisi, stimulasi perkembangan, imunisasi, dan keterlibatan aktif keluarga turut berperan besar dalam mendukung tumbuh kembang optimal anak.
Ikuti Detak.news
