— JAKARTA – Siloam International Hospitals mengumumkan investasi hampir Rp1 triliun yang difokuskan pada pengembangan teknologi bedah robotik. Langkah strategis ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan, presisi, dan kualitas layanan kesehatan, sekaligus memperkuat kapabilitas sistem kesehatan nasional.

David Utama, Presiden Director Siloam International Hospitals, menyatakan bahwa investasi senilai hampir Rp1 triliun telah dialokasikan selama lima tahun terakhir untuk teknologi bedah robotik. Menurutnya, layanan bedah robotik semakin diminati di Indonesia karena keunggulannya dibandingkan metode konvensional.

“Siloam International Hospitals terus memperkuat kapabilitas klinis dan telah memelopori layanan bedah robotik selama setahun terakhir di berbagai disiplin, termasuk ortopedi, urologi, bedah digestif, dan neurologi. Dengan tujuh sistem robotik yang beroperasi di Jakarta, Surabaya, Bali, dan Makassar, Siloam telah membangun salah satu ekosistem bedah robotik paling komprehensif di Indonesia, sehingga semakin banyak masyarakat dapat mengakses layanan bedah berteknologi tinggi tanpa harus berobat ke luar negeri,” papar David.

David menambahkan bahwa inovasi yang dilakukan diarahkan untuk memberikan manfaat nyata berupa tindakan yang lebih presisi, lebih aman, pemulihan yang lebih cepat, dan hasil klinis yang lebih baik. Ia menjelaskan bahwa dalam setahun terakhir, Siloam tidak hanya menghadirkan teknologi bedah robotik, tetapi juga membangun ekosistem yang mendukung penerapannya, termasuk investasi pada pengembangan kompetensi dokter, tata kelola klinis, penelitian, dan budaya pembelajaran berkelanjutan.

Komitmen ini mendapat apresiasi dari dr. Yanti Herman, SH, MH.Kes, Direktur Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan. “Penguatan kompetensi tenaga kesehatan, pengembangan layanan berbasis teknologi, serta kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi penting dalam menghadirkan layanan kesehatan yang semakin aman, presisi, dan berkualitas. Inovasi bedah robotik tidak hanya mendorong kemajuan praktik bedah modern, tetapi juga memperkuat kapabilitas sistem kesehatan nasional agar masyarakat dapat mengakses layanan berstandar global lebih dekat dengan rumah,” kata dr. Yanti.

Pemulihan Lebih Cepat Berkat Teknologi Robotik

Perkembangan adopsi teknologi robotik di Indonesia sejalan dengan bukti ilmiah mengenai manfaatnya. Studi menunjukkan bahwa teknologi ini memungkinkan sayatan yang lebih kecil, nyeri pascaoperasi yang lebih ringan, masa rawat inap yang lebih singkat, serta risiko komplikasi yang lebih rendah dibandingkan pendekatan konvensional. Tingkat presisi yang tinggi juga membantu dokter menangani kasus kompleks dengan akurasi yang lebih baik.

dr. Grace Frelita, MM, Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, menjelaskan bahwa penelitian menunjukkan penggunaan sistem bedah robotik Da Vinci Xi dapat mempersingkat lama rawat inap hampir dua hari, menurunkan risiko komplikasi pascaoperasi hingga 44%, dan risiko kematian dalam 30 hari hingga 46%. Dibandingkan laparoskopi konvensional, Da Vinci Xi juga menurunkan risiko konversi ke bedah terbuka sebesar 56% dan komplikasi pascaoperasi sebesar 10%.

Inge Samadi, Executive Director Siloam Hospitals Kebun Jeruk, mengungkapkan bahwa rumah sakitnya dikembangkan sebagai Center of Robotic & Minimally Invasive Surgery. Pusat unggulan ini berfokus pada layanan, pendidikan, penelitian, dan pengembangan bedah robotik lintas disiplin. Didukung oleh 10 dokter bedah robotik tersertifikasi, Siloam Hospitals Kebon Jeruk telah melakukan lebih dari 100 prosedur bedah robotik sejak mengoperasikan sistem Da Vinci Xi pada 2025.

Berdasarkan evaluasi klinis internal Siloam, pemanfaatan bedah robotik menunjukkan manfaat yang terukur dalam aspek presisi, keselamatan, dan pemulihan pasien. “Melalui Siloam Knee Arthroplasty Registry yang membandingkan operasi lutut robotik dan konvensional dari empat rumah sakit Siloam, kami menemukan tingkat keamanan yang setara, dengan 0% readmisi 30 hari dan 0% infeksi pada kedua kelompok. Namun, pasien yang menjalani prosedur robotik menunjukkan pemulihan lebih cepat dengan rata-rata lama rawat inap 4,5 hari dibandingkan 6,2 hari pada prosedur konvensional,” papar dr. Grace.

Dari sisi presisi, hampir seluruh prosedur robotik yang dievaluasi mencapai target keseimbangan sendi lutut sesuai rencana operasi. Temuan ini sejalan dengan penelitian internasional yang menunjukkan bahwa teknologi robotik mendukung tingkat presisi tinggi dalam operasi penggantian sendi lutut.

Sutinah Irsan, salah satu pasien Total Knee Replacement (TKR) dengan teknologi ROSA® Knee Robotic Surgery di Siloam Hospitals Kebon Jeruk, berbagi pengalamannya. “Pemulihannya lebih cepat dan tidak ada rasa sakit. Saya percaya Siloam Hospitals Kebon Jeruk karena sudah berstandar global,” ujarnya.

Melalui Siloam Robotic Summit 2026, Siloam menegaskan komitmennya untuk memperkuat kapabilitas klinis sekaligus mempercepat pengembangan ekosistem bedah robotik di Indonesia melalui kolaborasi, pendidikan, penelitian, dan inovasi klinis. “Kemajuan bedah robotik bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana teknologi tersebut diterjemahkan menjadi hasil klinis yang lebih baik, pemulihan yang lebih optimal, dan kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien. Melalui kolaborasi dan pembelajaran yang berkelanjutan, kami berharap semakin banyak masyarakat Indonesia dapat mengakses layanan bedah berstandar global dan memperoleh manfaat dari inovasi ini di dalam negeri,” tutup dr. Grace.