Detak.news — KUALA LUMPUR – Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, memberikan klarifikasi mengenai investasi yang dilakukan oleh lembaga dana pensiun pegawai negeri sipil Malaysia, Kumpulan Wang Persaraan (KWAP), pada perusahaan rintisan teknologi akuakultur asal Indonesia, eFishery. Anwar menegaskan bahwa keputusan investasi tersebut telah melalui proses pengkajian yang mendalam.
“Pertanyaannya, apakah keputusan ini tidak diteliti? Jawabannya, dari panel investasi, investasi tersebut sudah diteliti,” tegas Anwar di hadapan Parlemen Malaysia, Senin (20/7/2026). Pernyataan ini disampaikan Anwar, yang juga menjabat sebagai Menteri Keuangan Malaysia, sebagai respons terhadap sorotan publik terkait kerugian yang dialami KWAP. Lembaga tersebut mencatat kerugian setelah mengucurkan dana sebesar 163,4 juta ringgit atau sekitar Rp 718 miliar ke eFishery.
Keputusan Profesional dan Dugaan Penipuan Terencana
Anwar menjelaskan bahwa di internal KWAP terdapat jajaran pengarah, panel, serta komite investasi yang diisi oleh para profesional terpilih. Setiap keputusan investasi dipastikan wajib melalui uji tuntas (due diligence) dan analisis mendalam. Ia menambahkan bahwa keputusan teknis investasi KWAP tidak memerlukan izin langsung dari Kementerian Keuangan.
Menurut Anwar, kerugian yang terjadi diduga disebabkan oleh manipulasi laporan keuangan oleh manajemen eFishery. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk penipuan terencana, dan pihak manajemen yang bertanggung jawab kini telah menjalani proses hukum serta ditahan.
Anwar menekankan bahwa KWAP bukanlah satu-satunya korban dalam kasus ini. Sejumlah lembaga investasi global dari Eropa, Abu Dhabi, Singapura, hingga Indonesia sendiri turut menanamkan modal dan mengalami kerugian. “Nilai investasi mereka bahkan lebih besar daripada KWAP. Jadi, mereka semua ikut terperdaya,” ujar Anwar.
Kinerja Keuangan KWAP Tetap Positif
Meskipun menghadapi isu kerugian di eFishery, Anwar meminta parlemen dan masyarakat untuk menilai kinerja KWAP secara menyeluruh. Keuntungan yang diraih KWAP dari portofolio investasi lainnya, termasuk pada sejumlah startup lokal Malaysia, jauh lebih besar dibandingkan nilai kerugian di eFishery. “Jadi, kita harus melihat dampaknya secara keseluruhan,” jelasnya.
Kendati demikian, Anwar mendukung penuh langkah Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SPRM) atau lembaga antikorupsi Malaysia untuk mengusut tuntas potensi pelanggaran hukum atau korupsi dalam proses investasi tersebut. Ia telah memerintahkan manajemen KWAP untuk kooperatif. “Meskipun berdasarkan laporan awal saya tidak melihat adanya unsur korupsi, kita tetap harus mengikuti proses hukum secara bertanggung jawab,” tutup Anwar.
eFishery sendiri merupakan perusahaan rintisan (startup) berstatus unicorn asal Indonesia yang bergerak di bidang teknologi akuakultur, menyediakan solusi otomatisasi pakan ikan dan udang. Kasus dugaan manipulasi laporan keuangan dan skandal akuntansi di tubuh manajemen internalnya terungkap setelah ditemukannya ketidaksesuaian data klaim pendapatan serta jumlah mitra pembudidaya. Kejanggalan ini memicu evaluasi besar-besaran dari para investor global yang sebelumnya menyuntikkan dana ratusan juta dolar. Isu ini viral di media sosial Indonesia maupun Malaysia, serta menyita perhatian publik dan politisi kedua negara karena melibatkan dana pensiun publik bernilai fantastis.
Ikuti Detak.news
