Detak.news — Sebanyak 60 anak dari keluarga prasejahtera di Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, berhasil dipertahankan agar tetap melanjutkan pendidikan sepanjang tahun pertama program pendampingan PELITA. Program ini merupakan kolaborasi antara MSIG Life dan ISCO Foundation. Capaian ini patut diapresiasi mengingat dalam tiga tahun sebelum program ini berjalan, angka putus sekolah di Sanggar Kebon Melati tercatat mencapai 5,9 persen.
Direktur Eksekutif ISCO Foundation, Julinda Dewi Simbolon, menjelaskan bahwa tekanan ekonomi bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan anak berhenti sekolah. Di lingkungan tersebut, banyak anak dan remaja juga menghadapi dorongan untuk segera bekerja demi membantu perekonomian keluarga.
Oleh karena itu, upaya pencegahan anak putus sekolah tidak bisa hanya mengandalkan bantuan biaya pendidikan. Anak-anak juga membutuhkan pendampingan, dukungan dari keluarga, serta motivasi yang kuat untuk terus belajar dan merencanakan masa depan mereka. “Di tengah keterbatasan hidup, yang paling dibutuhkan anak-anak adalah daya juang untuk tidak menyerah dan kesempatan melihat lebih jauh dari keseharian mereka,” ujar Julinda.
Memasuki tahun kedua pelaksanaan program, sebanyak 36 siswa tingkat SMP yang didampingi ISCO Foundation diajak untuk mengenal berbagai profesi dan lingkungan kerja melalui kegiatan bertajuk “Berani Punya Cita-Cita” yang diselenggarakan di Jakarta.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa berkesempatan mengikuti tur kantor, sesi berbagi pengalaman dengan jajaran manajemen dan psikolog perkembangan anak, serta mengikuti permainan reflektif yang berfokus pada tujuan, usaha, strategi, dan ketangguhan. Setiap anak kemudian diminta untuk menuliskan cita-cita mereka serta satu kebiasaan baik yang akan mereka lakukan secara konsisten demi mendukung pencapaian cita-cita tersebut.
Director and Chief Transformation Officer MSIG Life, Ken Terada, mengungkapkan bahwa pengenalan terhadap beragam profesi diharapkan dapat membantu anak-anak memahami bahwa pendidikan membuka lebih banyak kesempatan di masa depan. “Ketika seorang anak memiliki cita-cita, ia memiliki alasan untuk lebih semangat belajar dan menyelesaikan sekolah,” tuturnya.
Program PELITA telah berjalan sejak tahun 2024 dan hingga kini mendampingi 60 anak di Kebon Melati. Pendampingan tidak hanya diberikan kepada anak-anak, tetapi juga kepada orang tua mereka agar lebih mampu dalam mendukung pendidikan serta tumbuh kembang anak.
Pada tahun kedua pelaksanaannya, program ini mengalokasikan lebih dari Rp120 juta untuk berbagai keperluan, termasuk pembiayaan pendidikan, penyediaan makanan bergizi, perbaikan fasilitas sanggar, serta pendampingan komprehensif bagi anak dan orang tua.
Program ini juga mencakup edukasi literasi keuangan yang ditujukan bagi anak-anak maupun keluarga mereka. Pada semester pertama tahun 2026, para orang tua dijadwalkan untuk mengikuti lokakarya pengelolaan anggaran keluarga, sementara anak-anak akan mendapatkan pembelajaran mengenai cara menggunakan uang secara bijak.
Julinda menilai bahwa keberhasilan dalam menjaga seluruh anak tetap bersekolah tidak hanya ditentukan oleh bantuan finansial semata, tetapi juga oleh perubahan cara pandang keluarga terhadap pentingnya pendidikan. Menurutnya, pendampingan yang berkelanjutan dapat membantu orang tua melihat pendidikan sebagai salah satu bagian terpenting dalam memperluas peluang masa depan anak.
Upaya ini menunjukkan bahwa pencegahan anak putus sekolah memerlukan dukungan yang menyeluruh. Dukungan tersebut meliputi pemenuhan kebutuhan pendidikan, penguatan kapasitas keluarga, hingga pemberian ruang bagi anak untuk mengenali potensi diri dan membangun cita-cita mereka.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.