Detak.news — PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai pasar surat utang korporasi masih menunjukkan ketahanan pada semester I-2026 meskipun mulai menghadapi tekanan kenaikan yield. Lembaga pemeringkat tersebut tetap mempertahankan proyeksi penerbitan surat utang korporasi tahun ini di kisaran Rp 154 triliun hingga Rp 196,86 triliun, yang ditopang oleh tingginya kebutuhan refinancing emiten.
Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo Suhindarto mengatakan aktivitas penerbitan surat utang sepanjang enam bulan pertama tahun ini masih tergolong solid. Meskipun secara nominal mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, banyak perusahaan memanfaatkan momentum yield yang rendah pada awal tahun untuk memperoleh pendanaan.
Pefindo mencatat nilai penerbitan surat utang korporasi pada Januari-Juni 2026 mencapai Rp 87,35 triliun, turun 3,91% dibandingkan semester I-2025 sebesar Rp 90,9 triliun. Namun demikian, jika dibandingkan dengan nilai surat utang yang jatuh tempo, aktivitas penerbitan justru lebih agresif. Rasio penerbitan terhadap surat utang jatuh tempo mencapai 158,2%, meningkat dari 140,3% pada periode yang sama tahun lalu. Hal ini menunjukkan nilai surat utang baru yang diterbitkan jauh melampaui kewajiban yang jatuh tempo.
Menurut Suhindarto, kenaikan yield mulai memengaruhi strategi pendanaan emiten. Perusahaan dengan peringkat kredit tinggi masih mampu memperoleh biaya pendanaan yang kompetitif sehingga lebih aktif mengakses pasar obligasi dibandingkan emiten berperingkat lebih rendah. “Untuk peringkat AAA dan AA, biaya pendanaan masih relatif kompetitif sehingga penerbitan tahun ini menjadi lebih selektif,” katanya.
Pefindo mencatat penerbitan surat utang masih didominasi emiten dengan kualitas kredit tinggi. Surat utang berperingkat idA menyumbang 44,78% dari total penerbitan, disusul idAAA sebesar 35,26%, dan idAA sebesar 19,96%. Hingga semester I-2026, belum terdapat penerbitan surat utang dengan peringkat idBBB.
Berdasarkan jenis penerbit, perusahaan swasta masih menjadi kontributor terbesar dengan penerbitan mencapai Rp 62,9 triliun, sedangkan kelompok BUMN sebesar Rp 24,4 triliun. Mayoritas dana hasil penerbitan masih digunakan untuk kebutuhan modal kerja. Namun, Pefindo mencatat porsi penerbitan yang dialokasikan untuk investasi mulai meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi instrumen, penerbitan obligasi dan sukuk melalui penawaran umum mencapai Rp 80,3 triliun, turun 11,1% secara tahunan. Sebaliknya, penerbitan Medium Term Notes (MTN) melonjak menjadi Rp 7,1 triliun dari hanya Rp 0,4 triliun pada semester I-2025. Secara sektoral, penerbitan terbesar berasal dari sektor kehutanan, pulp dan kertas sebesar Rp 12,8 triliun, diikuti perusahaan induk, pembiayaan otomotif, dan perbankan yang masing-masing mencatat penerbitan sekitar Rp 11,7 triliun. Sektor pertambangan menyusul dengan nilai Rp 8,1 triliun.
Refinancing Menjadi Pendorong Utama
Memasuki semester II-2026, Pefindo memperkirakan kebutuhan refinancing akan menjadi pendorong utama pasar obligasi korporasi. Nilai surat utang yang jatuh tempo pada paruh kedua tahun ini diperkirakan mencapai Rp 107,51 triliun, hampir dua kali lipat dibandingkan semester pertama. “Proyeksi Pefindo sejak awal tahun masih inline. Kebutuhan refinancing akan tetap menopang penerbitan surat utang hingga akhir tahun,” ujar Suhindarto.
Selain refinancing, stabilitas ekonomi domestik, kebijakan fiskal yang ekspansif, serta tingginya minat investor terhadap instrumen pendapatan tetap dinilai masih akan menopang pasar obligasi korporasi. Namun demikian, Pefindo mengingatkan sejumlah risiko yang berpotensi menekan pasar, mulai dari ketidakpastian geopolitik, kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat, pelemahan rupiah, tingginya penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), hingga persaingan dengan Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Menurut Suhindarto, faktor-faktor tersebut dapat mendorong kenaikan yield sehingga biaya pendanaan emiten menjadi lebih mahal. Meski begitu, dia optimistis minat korporasi mengakses pasar surat utang tetap terjaga. Hingga akhir Juni 2026, mandat pemeringkatan surat utang yang diterima Pefindo telah mencapai Rp 50,82 triliun. “Perusahaan-perusahaan masih melihat pasar surat utang korporasi sebagai salah satu alternatif pendanaan yang menarik,” kata Suhindarto.
Sektor Rentan Terhadap Tekanan
Dalam kesempatan yang sama, Pefindo juga mengidentifikasi sektor-sektor yang berpotensi menghadapi tekanan peringkat kredit sepanjang sisa 2026. Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan 1 Pefindo Martin Johannes mengatakan risiko utama berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Menurutnya, sektor yang banyak bergantung pada impor bahan baku dan transaksi dalam mata uang asing akan lebih rentan mengalami tekanan. “Dari pemantauan kami, sektor hilirisasi seperti stainless steel, HPAL, dan aluminium akan cukup terpapar risiko geopolitik dan pelemahan rupiah,” ujar Martin.
Selain itu, sektor transportasi, pariwisata, jasa konstruksi, ritel, dan properti juga dinilai menghadapi risiko yang lebih tinggi akibat tekanan biaya dan inflasi. Sebaliknya, Pefindo melihat peluang kenaikan peringkat bagi sektor yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah maupun perubahan kebijakan pemerintah. Sektor migas hulu berpotensi memperoleh manfaat karena pendapatannya berbasis dolar AS, sementara sektor tambang emas dinilai diuntungkan oleh meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Sektor perkebunan juga diperkirakan memperoleh sentimen positif dari implementasi kebijakan biodiesel B50 yang berpotensi meningkatkan permintaan minyak sawit. Hingga 30 Juni 2026, Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan 1 Pefindo telah menerbitkan 111 peringkat surat utang dari 58 entitas. Sektor kehutanan, pulp dan kertas serta perkebunan menjadi sektor dengan jumlah pemeringkatan terbanyak, masing-masing sebanyak 16 peringkat. Mayoritas surat utang yang diperingkat berada pada kategori idA dan idA+, sementara hanya lima surat utang yang memiliki peringkat di bawah idA-.
Ikuti Detak.news
