Detak.news — JAKARTA – PT Bukit Asam Tbk (PTBA), salah satu emiten batu bara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), diperkirakan akan menunjukkan kinerja yang solid sepanjang tahun 2026. Proyeksi positif ini salah satunya didorong oleh potensi peningkatan permintaan batu bara domestik, terutama pasca-terjadinya pemadaman listrik di sejumlah wilayah strategis di Indonesia.
Sebagai pemasok utama batu bara untuk kebutuhan domestik (domestic market obligation/DMO), PTBA memegang peranan krusial dalam menjaga ketersediaan energi nasional. Mengingat, sekitar 60% kebutuhan kelistrikan nasional masih bergantung pada batu bara sebagai sumber energi fosil. Pemerintah sendiri telah meminta PTBA untuk memperkuat pasokan batu bara berkalori menengah guna memenuhi kebutuhan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Vinna N. Rachmawati, mengungkapkan bahwa kondisi ini membuka peluang besar bagi peningkatan penyerapan penjualan domestik PTBA. “Kondisi ini berpotensi membuka peluang penyerapan penjualan domestik PTBA. Melihat, potensi PTBA yang cukup signifikan sebagai pemasok utama DMO,” ujarnya, seperti dikutip dari kanal Youtube Phintraco Sekuritas pada Jumat (24/7/2026).
Vinna menambahkan, rencana pemerintah untuk mengevaluasi skema harga DMO juga diperkirakan akan menjadi katalis positif bagi kinerja PTBA. Apalagi, jika mekanisme harga yang baru nanti dapat lebih mencerminkan kondisi harga batu bara di pasar saat ini.
Phintraco Sekuritas memproyeksikan pendapatan PTBA pada akhir tahun 2026 dapat mencapai Rp41,95 triliun, dengan laba kotor sebesar Rp8,22 triliun dan laba bersih Rp4,73 triliun. Pertumbuhan ini didukung oleh ekspektasi peningkatan permintaan batu bara domestik serta strategi jangka panjang perseroan melalui ekspansi transportasi dan pengembangan bisnis terintegrasi.
Berdasarkan perhitungan tersebut, Phintraco Sekuritas mempertahankan nilai wajar saham PTBA di angka Rp2.800 per saham. Angka ini memberikan potensi kenaikan sebesar 21,21% dibandingkan harga saham PTBA pada penutupan perdagangan Jumat (3/7/2026) yang berada di level Rp2.310.
Meskipun diuntungkan oleh situasi pemadaman listrik, PTBA tetap memiliki sejumlah risiko yang perlu dicermati. Vinna mengingatkan investor untuk memperhatikan potensi penerapan *windfall tax*, bea keluar, dan tata kelola sektor sumber daya alam (SDA) yang dapat memengaruhi profitabilitas perusahaan di masa mendatang.
Pada kuartal I-2026, PTBA berhasil mencatatkan kinerja positif dengan laba bersih melonjak 104,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp801,79 miliar. Kinerja ini dicapai dengan harga jual rata-rata batu bara (average selling price/ASP) sebesar US$56,68 per ton. Penjualan pada periode Januari-Maret 2026 didominasi oleh pasar domestik (53%), sementara ekspor menyumbang 47%, dengan Vietnam menjadi tujuan utama. Produksi batu bara PTBA pada kuartal tersebut mengalami penurunan 22% yoy menjadi 6,62 juta ton, namun penjualan relatif stabil di angka 10,16 juta ton, turun tipis 1,1% yoy.
PTBA memiliki target ambisius untuk meningkatkan volume produksi hingga 100 juta ton per tahun yang diproyeksikan tercapai pada 2030. Untuk mencapai target tersebut, perseroan terus berfokus pada peningkatan fasilitas transportasi batu bara. Proyek Tanjung Enim-Keramasan di Palembang, yang progresnya telah mencapai sekitar 84-85%, ditargetkan mulai beroperasi pada semester II-2026.
Selain itu, PTBA juga berencana meningkatkan kapasitas pelabuhan Tarahan dari 27,5 MT menjadi 28,0 MT, serta kapasitas pelabuhan Kertapati dari 8,0 MT menjadi 15,3 MT. Peningkatan kapasitas kedua pelabuhan eksisting ini dijadwalkan selesai setelah proyek Tanjung Enim-Keramasan rampung.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.