Detak.news — JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tergerus terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada pembukaan perdagangan Kamis, 23 Juli 2026. Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot exchange pada pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah 7 poin atau 0,04% ke level Rp 17.924 per dolar AS.
Perlemahan ini melanjutkan tren penutupan perdagangan sebelumnya. Pada Rabu, 22 Juli 2026, nilai tukar rupiah ditutup melemah 29 poin ke level Rp 17.917 per dolar AS.
Dolar AS secara umum terpantau stabil karena ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkat membuat investor cenderung waspada. Kondisi ini mendukung permintaan terhadap mata uang safe-haven atau aset aman.
Indeks dolar AS tercatat stabil di angka 101,11. Dolar AS mengalami penguatan sebelumnya seiring memburuknya ketegangan antara Washington dan Teheran yang memicu kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi.
Sementara itu, mata uang yen Jepang sedikit menguat 0,02% terhadap dolar AS, mencapai 163,1 per dolar AS. Joseph Capurso, kepala ekonomi internasional dan valuta asing di Commonwealth Bank of Australia, menyatakan bahwa perbedaan utama kali ini adalah tingkat persediaan minyak dan gas yang lebih rendah.
“Persediaan yang lebih rendah berarti kekurangan minyak dan gas lebih mungkin terjadi semakin lama konflik berlanjut, memperburuk dampak ekonomi negatif dari harga energi yang tinggi yang menguntungkan USD,” jelas Capurso dalam sebuah catatan.
Di pasar mata uang lainnya, euro tercatat naik 0,02% menjadi $1,1412 per dolar AS. Poundsterling Inggris terakhir diperdagangkan pada $1,3373 per dolar AS. Dolar Australia turun 0,1% terhadap dolar AS menjadi $0,6989, sementara dolar Selandia Baru melemah hampir 0,1% menjadi $0,5811 per dolar AS.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.