— JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi akan kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa, 28 Juli 2026. Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari tren negatif yang terjadi pada perdagangan Senin sore (27/7/2026), di mana rupiah ditutup anjlok 46 poin atau 0,26% ke posisi Rp 18.009 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah dengan rentang prediksi di angka Rp 18.010 hingga Rp 18.060 pada perdagangan hari ini. Ia menjelaskan bahwa sentimen negatif pasar terhadap mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu faktor utama pelemahan rupiah.

Ibrahim menambahkan, pengunduran diri Perry Warjiyo terjadi di tengah gejolak rupiah yang terus melemah akibat memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran. Ia juga menyinggung adanya intervensi dari pemerintah dan DPR terhadap independensi Bank Indonesia. “Tidak jauh dari kata mundur untuk Bapak Perry Warjiyo,” katanya.

Sebelumnya, Ibrahim telah menyatakan pandangannya bahwa momen pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur BI tidak akan serta merta memulihkan nilai tukar rupiah. Menurutnya, konflik yang masih membayangi pasar keuangan di Timur Tengah maupun Eropa Timur terus memberikan tekanan terhadap rupiah.

“Selama faktor-faktor itu belum membaik, rupiah akan tetap sulit kembali menguat,” bebernya. Ia menambahkan, “Dalam kondisi seperti ini, saya melihat siapa pun yang memimpin Bank Indonesia akan menghadapi tantangan yang sama untuk mengembalikan rupiah ke level yang lebih kuat.”

Selain faktor domestik dan geopolitik, sisi eksternal juga turut mempengaruhi rupiah. Ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve yang menurun sempat memberikan sedikit harapan, namun data terbaru menunjukkan tren yang berbeda. CME FedWatch Tool kini menunjukkan pasar melihat peluang sebesar 78% akan ada kenaikan suku bunga pada bulan September mendatang.

Sementara itu, pada pertemuan kebijakan moneter yang dijadwalkan pada 28-29 Juli, The Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah.