— Nilai tukar rupiah (IDR) diprediksi kembali rentan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada Rabu, 29 Juli 2026. Pada perdagangan Selasa sore (28/7/2026), rupiah ditutup melemah 74 poin atau 0,41% ke level Rp 18.083 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp 18.009 per dolar AS.

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi melemah di rentang Rp 17.960 – Rp 18.020 per dolar AS,” ungkap Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, dalam keterangannya pada Selasa (28/7/2026).

Ibrahim memprediksi pelemahan rupiah ini dipicu sentimen pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI). Namun, penunjukan Destry Damayanti sebagai pejabat sementara dinilai dapat memberikan optimisme pasar. Hal ini terkait komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan yang berkelanjutan.

“Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada penunjukkan Gubernur BI yang definitif. Penunjukkan Gubernur BI yang baru yang sesuai dengan harapan pasar serta transisi kepemimpinan yang berjalan lancar, diharapkan dapat menjaga kredibilitas dan independensi bank sentral dalam menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Ibrahim.

Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings turut merespons berita pengunduran diri Perry Warjiyo. Sovereign Analyst di S&P Global Ratings, Rain Yin, menyatakan kepada Bloomberg bahwa pengunduran diri tersebut tidak berdampak langsung pada sovereign rating Indonesia. Meskipun demikian, hal ini dapat berkontribusi pada peningkatan risiko terkait prospek kebijakan negara.

Dari sisi eksternal, rupiah diprediksi kembali melemah meski sentimen global telah mereda. Jeda dalam konflik AS dan Iran di Timur Tengah serta ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada hari Rabu menjadi faktor yang diperhitungkan.

Sebelumnya, Ketua The Fed, Kevin Warsh, menerima komentar yang cenderung hawkish sejak keputusan suku bunga bank sentral terakhir pada bulan Juni. Perangkat CME FedWatch kini menunjukkan probabilitas sekitar 62% untuk skenario penahanan suku bunga The Fed.