— JAKARTA – Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) pada Senin (27/7/2026) pagi mengejutkan banyak pihak dan memicu ragam spekulasi, yang berujung pada guncangan di pasar keuangan domestik. Pasar kini menanti kepastian penunjukan gubernur definitif untuk mencegah hilangnya kepercayaan investor terhadap independensi dan kredibilitas bank sentral.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengumumkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menerima surat pengunduran diri Perry Warjiyo. “Bapak Presiden menerima pengunduran diri dari Bapak Perry Warjiyo. Tentu disertai dengan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas dedikasi beliau selama kurang lebih tujuh tahun memimpin Bank Indonesia,” ujar Prasetyo.

Menyusul pengunduran diri tersebut, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti ditunjuk sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia hingga pemerintah menyelesaikan proses penetapan gubernur definitif sesuai ketentuan perundang-undangan. Pemerintah juga akan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) mengenai pemberhentian Perry Warjiyo dengan hormat dari jabatan Gubernur BI.

Pada perdagangan Senin sore (27/7/2026), nilai tukar rupiah ditutup melemah 46 poin (0,26%) ke level Rp 18.009 per dolar AS. Indeks harga saham gabungan (IHSG) juga melemah sebesar 10,65 poin (0,17%) ke level 6.185,7. Pelemahan ini diprediksi akan berlanjut pada hari berikutnya.

Direktur Riset Bidang Keuangan, Ekonomi Digital dan Syariah Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Etika Karyani, menilai pengunduran diri Perry Warjiyo bukan hanya sekadar pergantian personel, melainkan ujian terhadap kredibilitas kelembagaan BI. “Pasar dapat menerima pergantian gubernur, tetapi sulit menerima ketidakjelasan mengenai independensi dan arah kebijakan moneter,” kata Etika.

Menurut Etika, penunjukan Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Sementara sudah cukup mampu menjaga kesinambungan kebijakan moneter dan mempertahankan kredibilitas Bank Indonesia di mata pasar. Namun, yang akan menentukan kepercayaan pasar dalam jangka menengah adalah siapa gubernur definitif yang dipilih dan apakah prosesnya mampu memperkuat independensi BI.

Etika menekankan bahwa dalam masa transisi kepemimpinan ini, prioritas Bank Indonesia adalah kepastian, bukan perubahan. “Jika kredibilitas bank sentral terjaga, stabilitas rupiah dan pasar keuangan akan lebih mudah dipertahankan,” imbuhnya. Ia berharap proses pemilihan Gubernur Bank Indonesia definitif dilakukan secara transparan dan independen.

Ekonom Senior & Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto, menilai pengunduran diri Perry Warjiyo tidak semestinya menimbulkan gejolak di pasar keuangan. Ia meminta seluruh pihak menghormati keputusan tersebut dan menghindari spekulasi yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi. “Kita hormati apa yang sudah diputuskan oleh beliau yang dengan terbuka menyatakan mengundurkan diri. Terlepas apa pun alasannya, itu merupakan hak beliau,” ujar Ryan.

Ryan menambahkan bahwa keputusan strategis di bank sentral dilakukan secara kolektif-kolegial oleh Dewan Gubernur, sehingga mekanisme kebijakan akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tantangan terbesar saat ini adalah menjaga kepercayaan pelaku pasar dan mencegah spekulasi berlebihan mengenai latar belakang pengunduran diri Perry.

Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Hera F. Haryn menyatakan pihaknya menghormati keputusan Perry Warjiyo. BCA juga akan terus mendukung berbagai langkah pemerintah dan regulator untuk memperkuat industri jasa keuangan. “Pada prinsipnya, BCA mendukung upaya pemerintah dan regulator memperkuat industri jasa keuangan. Kami berkomitmen menjalankan bisnis dengan menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian dan menerapkan manajemen risiko disiplin,” sambung Hera.

Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings menilai pengunduran diri Perry Warjiyo memunculkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter ke depan, yang berpotensi memperlemah kepercayaan investor dan meningkatkan tekanan eksternal terhadap perekonomian Indonesia. “Sentimen investor yang rapuh di tengah ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter di masa depan dan persepsi independensi bank sentral,” ujar Director Asia-Pacific Sovereign Ratings Fitch Ratings, George Xu.

Fitch menilai kondisi tersebut berpotensi menekan stabilitas nilai tukar rupiah, meningkatkan biaya utang pemerintah, serta menggerus cadangan devisa Indonesia. Kekhawatiran Fitch terhadap independensi Bank Indonesia yang sebelumnya telah disampaikan pada Maret 2026, kini semakin menguat.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, berpendapat pengunduran diri Perry Warjiyo tidak semata-mata dilatarbelakangi alasan pribadi, melainkan diduga ada tekanan politik yang telah berlangsung sejak pelemahan nilai tukar rupiah pada akhir 2025. “Sepertinya ada tekanan politik sehingga Perry mundur dan ini sudah terasa sejak rupiah melemah di akhir tahun 2025,” kata Bhima.

Bhima menyesalkan keputusan tersebut karena dinilai menjadi pukulan bagi sektor moneter nasional, mengingat masa jabatan Perry sebagai Gubernur BI masih berlangsung hingga Mei 2028. Ia mencontohkan tekanan politik tersebut berkaitan dengan persoalan fiskal, penerimaan pajak yang lemah, dan penambahan utang pemerintah yang agresif.

Chief Economist PermataBank Josua Pardede, menilai pengunduran diri Perry cukup mengejutkan, namun harus dihargai. Ia menegaskan proses pengambilan kebijakan moneter di Bank Indonesia akan tetap berjalan karena keputusan strategis BI dilakukan secara kolektif dan kolegial. Pengalaman Destry Damayanti sebagai Deputi Gubernur menjadi modal penting dalam menjaga kesinambungan kebijakan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pengunduran diri Perry Warjiyo tidak mengubah komitmen pemerintah dan bank sentral dalam menjaga stabilitas moneter. “Ya kan yang penting kan institusinya. Dan institusi BI kan tetap menjalankan fungsi untuk menjaga nilai tukar dan juga menjaga kestabilan moneter,” ujar Airlangga.