— Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA), emiten jasa pertambangan yang terafiliasi dengan Grup Bakrie, menunjukkan performa impresif di lantai bursa. Pada perdagangan Senin (20/7/2026), saham berkode DEWA ini melesat 9,34% ke level Rp 398 per saham.

Perdagangan saham DEWA tercatat cukup aktif dengan total 983,5 juta saham berpindah tangan melalui 41.418 frekuensi transaksi, menghasilkan nilai transaksi mencapai Rp 375,98 miliar. Menariknya, investor asing membukukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 51,91 miliar pada saham ini.

Performa positif DEWA tidak hanya terjadi pada hari itu, tetapi juga sepanjang bulan Juli 2026. Dalam sepekan terakhir, saham emiten Grup Bakrie ini telah melonjak sebesar 15,03%.

Rekomendasi “Buy” dari Mandiri Sekuritas

Analis dari Mandiri Sekuritas (Mansek) memberikan sorotan positif terhadap saham Darma Henwa. Perusahaan sekuritas ini merekomendasikan saham DEWA dengan predikat “buy” untuk perdagangan Selasa (21/7/2026), menetapkan target harga di Rp 406.

Mansek juga menyarankan investor untuk melakukan “stoploss” apabila harga saham Darma Henwa bergerak turun menembus level Rp 394.

Kontrak Baru Menjadi Katalis Utama

Lonjakan saham DEWA juga didukung oleh kabar baik terkait perolehan kontrak baru. PT Darma Henwa Tbk berhasil mendapatkan kontrak jasa pertambangan dari PT Suku Sejaka Coal (SSC), yang memiliki tambang di Pulau Laut, Kalimantan Selatan. Kontrak ini signifikan karena berasal dari pihak di luar Grup Bakrie (Bumi).

Berdasarkan riset BCA Sekuritas, kontrak tersebut mencakup layanan overburden removal (OB) sebanyak 55 juta bank cubic meter (bcm) dan produksi batu bara sebesar 5 juta ton, dengan potensi perpanjangan. Perolehan kontrak di luar grup ini dianggap sebagai sejarah penting bagi DEWA dan menjadi katalis kuat bagi peningkatan laba bersih serta harga sahamnya.

“Kontrak ini meningkatkan prospek laba bersih DEWA dalam jangka menengah,” tulis BCA Sekuritas dalam risetnya.

Proyeksi Pertumbuhan Pendapatan dan Laba Bersih

BCA Sekuritas memproyeksikan pertumbuhan kinerja DEWA di tahun 2027. Estimasi mereka menyebutkan bahwa volume OB akan meningkat 27% menjadi 205 juta bcm, naik dari proyeksi 160 juta bcm pada 2026. Peningkatan ini diperkirakan akan mendorong pendapatan tumbuh 19% menjadi Rp 7,9 triliun, dan laba bersih melonjak 23% menjadi Rp 1,1 triliun.

Target Harga Rp 800 dan Risiko yang Perlu Diperhatikan

BCA Sekuritas menyatakan kekagumannya terhadap kemampuan DEWA dalam mengeksekusi rencana bisnis dan memperluas basis pelanggan. Hal ini mendorong mereka untuk menyematkan rekomendasi “buy” dengan target harga yang lebih ambisius, yaitu Rp 800 per saham. Target harga ini setara dengan valuasi EV/EBITDA sebesar 11,6 kali.

Namun, BCA Sekuritas juga mengingatkan adanya beberapa risiko yang perlu dicermati oleh investor. Risiko tersebut meliputi cuaca yang tidak menentu, potensi persetujuan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) yang di bawah prediksi, pelemahan harga batu bara, serta tantangan dalam akses pendanaan dan risiko terkait proyek tambang emas Gayo.