— PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), emiten yang terafiliasi dengan Rebecca Halim, istri dari Sugianto Kusuma atau Aguan, menunjukkan kinerja positif berkat penjualan produk Apple, khususnya iPhone. Perusahaan ini kini diperdagangkan sebagai saham termurah di sektornya dengan diskon valuasi yang signifikan.

Selama periode Januari hingga Mei 2026, ERAA berhasil mencatat pertumbuhan penjualan di gerai yang sama (same store sales growth/SSSG) sebesar 7,2%. Kinerja ini sangat ditopang oleh tingginya permintaan produk premium seperti iPhone 17 Pro Max.

“ERAA juga mencatat permintaan yang masih kuat terhadap produk unggulan kelas premium, seperti iPhone 17 Pro Max,” tulis analis Samuel Sekuritas Indonesia, Jonathan Guyadi, dalam risetnya.

Untuk mengantisipasi dampak pelemahan nilai tukar rupiah, jaringan gerai iBox ini telah melakukan penambahan stok produk lebih awal sebagai bantalan. Selain itu, dukungan promosi juga diberikan untuk menjaga volume penjualan agar tetap stabil.

Sementara itu, PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL), yang merupakan anak usaha ERAA dan bergerak di bidang produk aktif serta gaya hidup, mencatatkan SSSG dua digit sebesar 10,8%. Pertumbuhan ini didukung oleh performa positif di berbagai kategori, termasuk produk gaya hidup aktif.

Jonathan memproyeksikan penjualan ERAA pada kuartal III-2026 akan tumbuh 4,8% secara tahunan (yoy), dengan laba bersih diprediksi meningkat 53% yoy. Pertumbuhan ini didorong oleh tren “up-trading”, di mana konsumen beralih ke ponsel dengan spesifikasi dan harga yang lebih tinggi seiring peluncuran model kelas atas oleh berbagai merek.

Proyeksi kinerja ERAA pada kuartal II-2026 diperkirakan relatif datar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh basis perbandingan yang tinggi pada kuartal II-2025, yang mencakup penjualan tertunda iPhone 16 dari tahun 2024.

Saham Termurah dengan Target Harga Baru

Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham ERAA, namun menurunkan target harganya menjadi Rp 500 per saham. Penyesuaian ini dilakukan seiring dengan penurunan valuasi pasar dan sektor secara keseluruhan.

Saat ini, saham ERAA diperdagangkan pada price to sales ratio (P/S) 2026 sebesar 0,1 kali. Angka ini merupakan yang terendah di sektornya, mencerminkan diskon valuasi sebesar 83% dibandingkan perusahaan sejenis. Dari sisi price to earnings ratio (P/E) 2026, ERAA juga menjadi saham termurah dengan diskon valuasi 71% dibandingkan rata-rata sektornya.

Samuel Sekuritas menilai dominasi pangsa pasar ERAA mampu meredam dampak kondisi operasional yang menantang. Strategi ERAA untuk meningkatkan kontribusi bisnis produk aktif dan gaya hidup menjadi sekitar 25-30% dari total pendapatan dalam jangka panjang juga berpotensi memperbaiki return on equity (ROE).

Risiko utama yang perlu diwaspadai adalah SSSG yang lebih rendah dari perkiraan, pelemahan nilai tukar rupiah yang lebih dalam, serta ketegangan geopolitik dan keterbatasan pasokan yang dapat mengganggu kegiatan impor produk.

Tren Kenaikan Harga Ponsel Global

Secara global, International Data Corporation (IDC) memperkirakan volume pengiriman ponsel pada 2026 akan turun 13,9%, yang berpotensi menjadi kontraksi terdalam yang pernah tercatat. Namun, harga jual rata-rata gabungan (blended average selling price/ASP) diperkirakan meningkat sekitar US$ 100 menjadi rekor tertinggi di US$ 550.

“Perlu diperhatikan bahwa selama semester I-2026, sebagian besar produk baru yang diluncurkan oleh pemegang merek menunjukkan tren up-trading. Harga utama produk meningkat sekitar 4-27% dibandingkan model sebelumnya,” ujar Jonathan.

Ponsel kategori pemula hingga menengah mencatat kenaikan harga terbesar sekitar 17-27% dibandingkan model sebelumnya. Di Indonesia, volume pengiriman smartphone pada kuartal I-2026 turun 9% yoy, dipicu oleh krisis pasokan memori global yang mendorong kenaikan harga ritel sebesar 7-45%.

Pada kuartal II-2026, tekanan semakin besar akibat pelemahan rupiah hingga ke level Rp 18.000 per dolar AS. Kondisi ini memberikan tekanan terbesar terhadap segmen pemula yang sensitif terhadap daya beli, di mana volume penjualan perangkat di bawah US$ 150 turun 19% yoy. Sebaliknya, segmen premium dengan harga di atas US$ 600 meningkat 30% yoy, didorong oleh penjualan produk Apple.