Detak.news — JAKARTA – Reli saham-saham konglomerat pada perdagangan Selasa (21/7/2026) bukan hanya dipicu oleh satu faktor, melainkan kombinasi dari membaiknya sentimen pasar, kembalinya arus dana asing, serta rotasi investasi ke saham-saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya tertinggal. Pengamat pasar modal dan pendiri Republik Investor Hendra Wardhana menjelaskan, dalam tiga hari perdagangan terakhir, investor asing secara konsisten membukukan pembelian bersih (net buy), dengan total mencapai Rp 725 miliar pada Jumat, Rp 156 miliar pada Senin, dan meningkat menjadi Rp 360 miliar pada Selasa.
“Selain itu, aktivitas perdagangan juga menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan, tercermin dari nilai transaksi harian yang mencapai sekitar Rp 20,8 triliun. Peningkatan nilai transaksi ini menunjukkan minat investor mulai kembali meningkat dan likuiditas pasar semakin membaik,” ujar Hendra dikutip Rabu (22/7/2026).
Meskipun arus dana asing belum terlalu besar, konsistensinya menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia mulai pulih. Kondisi ini dimanfaatkan investor untuk kembali mengoleksi saham-saham konglomerasi yang memiliki kapitalisasi besar, likuiditas tinggi, dan sebelumnya telah mengalami koreksi cukup dalam sehingga valuasinya kembali menarik.
“Dengan kata lain, reli yang terjadi saat ini lebih didorong oleh kombinasi perbaikan sentimen, rotasi dana, meningkatnya aktivitas transaksi, dan aksi bargain hunting dibandingkan perubahan fundamental yang terjadi secara instan,” sebutnya.
Penguatan serentak saham-saham konglomerat juga dapat menjadi indikasi awal bahwa saham-saham berkapitalisasi besar mulai kembali menjadi perhatian investor setelah beberapa waktu tertinggal dibandingkan saham-saham berkapitalisasi menengah dan kecil. Secara historis, ketika investor asing kembali masuk ke pasar Indonesia, dana tersebut umumnya akan mengalir terlebih dahulu ke saham-saham dengan kapitalisasi besar karena memiliki likuiditas yang memadai untuk menyerap investasi dalam jumlah besar.
“Namun demikian, saya menilai masih terlalu dini untuk menyebut bahwa pasar telah memasuki tren bullish jangka panjang. Keberlanjutan penguatan masih sangat bergantung pada konsistensi arus dana asing, stabilitas ekonomi domestik, serta perkembangan faktor eksternal,” papar Hendra.
Saat ini, investor juga perlu mencermati dua risiko utama, yakni harga minyak dunia yang kembali mendekati US$ 90 per barel dan nilai tukar rupiah yang kembali bergerak mendekati Rp 18.000 per dolar AS. Kedua faktor tersebut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, memperbesar biaya impor, serta memengaruhi arah kebijakan moneter sehingga tetap perlu diwaspadai.
Dari sisi teknikal, selama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bertahan di atas level 6.300, peluang untuk melanjutkan penguatan menuju area 6.500 masih cukup terbuka. Apabila level tersebut berhasil ditembus dengan dukungan volume transaksi yang tetap tinggi dan arus dana asing yang terus berlanjut, maka target psikologis 7.000 hingga akhir tahun masih realistis untuk dicapai.
Dalam skenario tersebut, saham-saham konglomerat berpotensi kembali menjadi motor utama penggerak IHSG mengingat bobot kapitalisasi pasarnya yang sangat besar. “Kenaikan harga saham-saham seperti Grup Prajogo Pangestu, Grup Salim, Grup MNC, maupun emiten konglomerasi lainnya akan memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan indeks secara keseluruhan,” papar Hendra.
Oleh karena itu, keberlanjutan arus dana asing menjadi salah satu indikator paling penting yang perlu diperhatikan investor dalam beberapa pekan mendatang.
Saham Pilihan CDIA Cs
Untuk strategi investasi, Hendra menilai investor sebaiknya tidak terburu-buru mengejar saham yang sudah melonjak tinggi dalam satu hari perdagangan. Momentum positif memang masih layak dimanfaatkan, namun pendekatan yang lebih bijak adalah melakukan buy on weakness atau akumulasi secara bertahap ketika terjadi koreksi yang sehat.
Di antara saham-saham yang masih menarik dicermati, CUAN masih layak untuk trading buy dengan target 865, CDIA dapat dipertimbangkan trading buy dengan target 950, BRPT juga menarik untuk trading buy dengan target 2.000, TPIA masih layak untuk speculative buy dengan target 2.460, sedangkan PTRO menarik untuk trading buy dengan target 5.450. Saham-saham tersebut merupakan emiten dari Grup Prajogo Pangestu.
“Dengan tetap disiplin menerapkan manajemen risiko dan memperhatikan perkembangan arus dana asing, pergerakan rupiah, harga minyak dunia, serta likuiditas pasar yang mulai membaik, investor masih memiliki peluang memanfaatkan momentum kebangkitan saham-saham konglomerat tanpa mengabaikan potensi volatilitas yang masih cukup tinggi di pasar,” pungkasnya.
Ikuti Detak.news
