— MEDAN – Indonesia menjadi tuan rumah dalam rangkaian Pertemuan ke-19 Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Working Group on Agriculture and Agro-based Industry (WGAA). Acara ini diselenggarakan di Medan, Sumatera Utara, dengan tujuan utama memperkuat kerja sama regional di sektor pertanian dan agroindustri.

Pertemuan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Pertanian, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan PTPN Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) beserta anak perusahaannya, PTPN IV dan PT Kawasan Industri Nusantara (KINRA). Dukungan dari BPDP dan PTPN Group menegaskan komitmen Indonesia dalam mendorong penguatan kerja sama subregional, khususnya pada komoditas strategis seperti kelapa sawit dalam kerangka IMT-GT.

Kolaborasi ini juga menunjukkan sinergi Indonesia dalam mempromosikan pembangunan perkebunan yang berkelanjutan, peningkatan nilai tambah produk, serta penguatan rantai pasok kelapa sawit di kawasan IMT-GT.

Delegasi dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand turut hadir dalam pertemuan ini, bersama dengan perwakilan IMT-GT Joint Business Council (JBC), IMT-GT University Network (UNINET), dan Centre for IMT-GT Subregional Cooperation (CIMT). Forum ini menjadi ajang pembahasan berbagai isu strategis dan penyelarasan langkah tindak lanjut antarnegara anggota di sektor pertanian dan agroindustri.

Ketua Pertemuan IMT-GT WGAA, Puncharat Muansoy, menyampaikan apresiasinya kepada Pemerintah Indonesia atas penyelenggaraan pertemuan ini. Ia menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama regional untuk mewujudkan sektor pertanian yang lebih maju dan berdaya saing, sejalan dengan Visi IMT-GT 2036. Hal ini dapat dicapai melalui peningkatan kerja sama teknis, penguatan kapasitas, serta pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik antarnegara anggota.

Puncharat menambahkan bahwa pertemuan ini menjadi momentum penting bagi negara anggota untuk mengevaluasi pelaksanaan program yang sedang berjalan. Selain itu, pertemuan ini juga menjadi ajang perumusan inisiatif baru dalam kerangka kerja sama IMT-GT periode 2027–2031, seiring dengan memasuki tahap akhir implementasi Implementation Blueprint (IB) 2022–2026.

Ketua Delegasi Indonesia, DR. Ade Candradijaya, menyoroti bahwa pertemuan ini adalah momen krusial untuk meninjau capaian kerja sama dan merumuskan langkah-langkah praktis guna memperkuat kolaborasi pertanian di kawasan IMT-GT. Ia juga menggarisbawahi berbagai tantangan dalam implementasi IMT-GT IB 2022–2026, yang memerlukan penguatan dukungan untuk mobilisasi pendanaan eksternal dan pengembangan kemitraan strategis. Upaya ini bertujuan mempercepat implementasi dan perluasan inisiatif regional di bawah WGAA.

“Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, gangguan rantai pasok, dan penyakit lintas batas, kolaborasi yang lebih erat dengan mitra pembangunan, sektor swasta, akademisi, dan seluruh stakeholders terkait menjadi semakin penting untuk mendorong program-program yang lebih berdampak dan berkelanjutan, serta mampu memperkuat ketahanan pangan di kawasan IMT-GT,” ujar Ade Candradijaya, dikutip dari keterangan resmi, Kamis (23/7/2026).

Seluruh negara anggota sepakat untuk memperkuat koordinasi demi mempercepat penyelesaian program prioritas. Salah satu agenda penting adalah penandatanganan MoU Project Implementation Team on Palm Oil Cooperation (PIT POC) yang dijadwalkan pada 32nd IMT-GT Ministerial Meeting pada 10 September 2026 di Medan.

Pertemuan ini juga mendorong percepatan pembahasan usulan proyek kerja sama agar selaras dengan kepentingan ketiga negara anggota. Tujuannya adalah mengoptimalkan pencapaian target Implementation Blueprint (IB) 2022–2026 hingga akhir periode implementasinya. Selain itu, peran aktif JBC dan UNINET sebagai mitra strategis ditekankan untuk mendorong implementasi program WGAA agar menghasilkan luaran yang konkret dan memberikan manfaat nyata bagi negara-negara anggota.