— Harga Bitcoin (BTC) terpantau melemah pada perdagangan Kamis (23/7/2026) pagi, seiring dengan penurunan kapitalisasi pasar aset kripto global. Meskipun koreksi yang terjadi relatif terbatas, para analis memberikan peringatan mengenai potensi lonjakan volatilitas dalam waktu dekat. Volatilitas Bitcoin saat ini dilaporkan berada pada level terendah sejak tahun 2016.

Berdasarkan data CoinMarketCap per pukul 06.12 WIB, kapitalisasi pasar kripto global mengalami penurunan sebesar 0,27% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 2,25 triliun. Sementara itu, harga Bitcoin (BTC) tercatat melemah 0,37% menjadi US$ 66.001,34 per koin, setara dengan Rp 1,18 miliar (dengan kurs Rp 17.908 per dolar AS).

Indeks CoinDesk 20, yang melacak kinerja 20 aset kripto terbesar, juga mengalami koreksi sebesar 0,52%. Di sisi lain, Ethereum justru menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 0,94% ke level US$ 1.936. Binance Coin (BNB) terpantau melemah tipis 0,23% ke angka US$ 571.

Menurut laporan dari CryptoNews, harga Bitcoin (BTC) sempat menguat pada perdagangan Rabu (22/7/2026), namun pasar kripto secara keseluruhan memasuki fase yang dianggap krusial. Di balik kenaikan harga tersebut, volatilitas Bitcoin tercatat turun ke level terendah dalam hampir satu dekade terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya pergerakan harga yang lebih besar dalam waktu dekat.

Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$66.100 setelah sempat menembus US$66.500 pada awal sesi perdagangan. Dalam sepekan terakhir, aset kripto terbesar di dunia ini telah mencatatkan penguatan lebih dari 2%, bergerak dalam rentang harga antara US$64.700 hingga US$66.700.

Meskipun tren pemulihan mulai terlihat, sejumlah analis berpendapat bahwa kondisi pasar saat ini belum cukup kuat untuk mengonfirmasi dimulainya tren bullish jangka panjang.

Kontributor CryptoQuant, Axel Adler Jr., mengungkapkan bahwa volatilitas terealisasi (realized volatility) Bitcoin selama 30 hari terakhir telah turun menjadi 28,3, menurun dari angka 41,6 pada 25 Juni. Menurutnya, level tersebut menempatkan volatilitas Bitcoin pada 8% terendah sejak tahun 2016. Ini berarti, sekitar 92% dari seluruh hari perdagangan dalam hampir satu dekade terakhir mencatat tingkat volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan kondisi saat ini.

“Kondisi pasar yang sangat tenang seperti ini biasanya tidak berlangsung lama, terutama setelah harga mulai pulih secara bertahap,” ujar Adler.

Adler menambahkan bahwa kenaikan harga Bitcoin belakangan ini belum diikuti oleh peningkatan pada open interest di pasar derivatif. Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan leverage oleh para trader masih relatif rendah, sehingga risiko likuidasi dalam skala besar dalam jangka pendek masih terbatas. Namun, ketika volatilitas kembali meningkat, pergerakan harga diperkirakan akan menjadi jauh lebih tajam dan berpotensi mengejutkan pelaku pasar yang menggunakan leverage tinggi.

Saat ini, investor menanti apakah fase tenang ini akan berakhir dengan penembusan (breakout) ke level yang lebih tinggi atau justru mengalami pembalikan arah (reversal).

Level Kunci Bitcoin

Secara teknikal, rata-rata pergerakan (moving average) 20 hari dan 50 hari masih berada di bawah harga Bitcoin saat ini, memberikan dukungan jangka pendek. Namun, tantangan utama masih terletak pada moving average 200 hari yang berada di sekitar US$72.700, yang menjadi level resistensi penting.

Adler menilai bahwa tekanan jual dapat kembali meningkat apabila volatilitas naik di atas 35% dan Bitcoin gagal menembus rata-rata pergerakan 200 hari tersebut. Di sisi lain, Fear Index masih berada dalam zona ketakutan, sementara tingginya permintaan terhadap emas dan obligasi pemerintah menunjukkan bahwa investor belum sepenuhnya kembali ke aset berisiko.

Pelaku pasar opsi juga cenderung bersikap hati-hati, dengan lebih banyak melakukan lindung nilai (hedging) dibandingkan mengambil posisi spekulatif yang agresif. Dalam skenario optimistis, Bitcoin diperkirakan mampu menembus US$68.000 dan melanjutkan kenaikan menuju kisaran US$72.000-US$72.700. Jika berhasil melewati area tersebut, reli berpotensi berlanjut ke US$75.000 hingga US$78.000.

Namun, dalam skenario dasar, Bitcoin diperkirakan masih akan bergerak dalam kisaran US$65.000-US$68.000 dengan volatilitas yang tetap rendah. Sebaliknya, apabila volatilitas melonjak di atas 35% dan harga kembali gagal menembus rata-rata pergerakan 200 hari, Bitcoin berpotensi terkoreksi ke US$61.800, kemudian menguji area US$60.000-US$61.000. Jika level tersebut jebol, target penurunan berikutnya berada di sekitar US$58.500.