— Tren pemulihan harga Bitcoin kembali diuji menyusul lonjakan dana keluar atau outflow dari ETF Bitcoin spot yang terdaftar di bursa Amerika Serikat pada akhir pekan lalu. Produk investasi ini mencatatkan penarikan dana lebih dari US$ 465 juta atau sekitar Rp 8,4 triliun pada 23 dan 24 Juli 2026. Angka ini secara resmi menghentikan rekor masuknya modal atau inflow yang sempat bertahan selama tujuh sesi berturut-turut.

Penarikan dana besar-besaran tersebut dipicu oleh kekhawatiran investor terkait potensi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Sentimen ini membayangi dampak positif dari rancangan undang-undang struktur pasar kripto AS, Clarity Act. Meskipun sempat tertekan, Bitcoin kemudian kembali menguat ke level US$ 65.000 pada Senin, naik 1,4% seiring pulihnya selera risiko pasar global setelah AS dan Iran menyepakati perpanjangan jeda serangan militer yang mengurangi kekhawatiran pasokan energi di Timur Tengah.

Sentimen Regulasi dan Isu Clarity Act

Senior Derivatives Trader di FalconX, Ivan Lim, menilai bahwa dinamika pasar kripto saat ini masih sangat dipengaruhi oleh faktor makroekonomi dan ketidakpastian regulasi. “Kami memperkirakan ketidakpastian yang didorong faktor makro akan berlanjut pekan ini, tetapi pandangan jangka panjang kami terhadap Bitcoin tetap optimistis (bullish). Outflow ETF Bitcoin baru-baru ini dan sikap hati-hati pasar merupakan respons atas penundaan pengesahan Clarity Act serta ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang lebih cepat,” jelas Ivan Lim.

Ketentuan etika dalam Clarity Act kini menjadi poin perdebatan sengit di Kongres AS. Partai Demokrat mendesak aturan yang lebih ketat guna mencegah Presiden AS Donald Trump memperoleh keuntungan finansial dari industri kripto yang diregulasi pemerintahannya. Hal ini mencuat setelah muncul laporan keuntungan bernilai US$ 1,4 miliar milik Trump dari bisnis kripto tahun lalu.

Dinamika Arus Dana ETF Bitcoin (Akhir Juli 2026)

  • Tren 7 Sesi Inflow → Terhenti oleh Penarikan US$ 465 Juta (23-24 Juli).
  • Hasil Mingguan → Tetap Positif US$ 33,8 Juta (Pekan ke-3 Inflow).
  • Pemicu Utama → Spekulasi Suku Bunga The Fed dan Ketidakpastian Regulasi.

Keyakinan Investor Keuangan Masih Rapuh

Meskipun terjadi lonjakan penarikan pada dua hari perdagangan terakhir, ETF Bitcoin secara keseluruhan masih mencatatkan inflow bersih sebesar US$ 33,8 juta untuk periode satu minggu penuh. Ini menandai tren positif mingguan ketiga secara berturut-turut, setelah sebelumnya investor sempat menarik dana senilai US$ 8,3 miliar selama delapan minggu beruntun.

Penarikan dana pada akhir pekan lalu, yang dipimpin oleh ETF IBIT milik BlackRock Inc., menunjukkan bahwa meskipun investor institusional telah kembali masuk secara selektif, keyakinan pasar masih relatif rapuh. Analis dari BTC Markets, Rachael Lucas, menekankan pentingnya mengamati pergerakan arus dana dalam beberapa hari mendatang. “Dua sesi perdagangan berikutnya akan menjadi petunjuk utama. Jika aliran dana menstabil, ini hanyalah jeda sementara akibat sentimen sesaat. Namun, jika outflow berlanjut hingga minggu kedua, kondisinya akan jauh lebih serius,” ujar Lucas.

Sejak Otoritas Jasa Keuangan AS (SEC) meluluskan perdagangan ETF Bitcoin spot pada awal 2024, struktur pasar kripto mengalami pergeseran fundamental. Kehadiran ETF memungkinkan investor institusional dan ritel besar untuk berinvestasi dalam Bitcoin langsung melalui akun bursa saham tradisional tanpa harus mengelola wallet digital sendiri. Akibatnya, pergerakan arus dana (inflow/outflow) pada ETF milik raksasa manajemen aset seperti BlackRock dan Fidelity menjadi tolok ukur utama likuiditas serta sentimen pasar kripto global.

Di sisi lain, kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) memegang peranan kunci terhadap aset berisiko. Ketika The Fed memberi sinyal kenaikan suku bunga (hawkish), imbal hasil pada instrumen aman seperti obligasi pemerintah AS meningkat. Hal ini mendorong investor menarik modalnya dari aset kripto untuk beralih ke instrumen berisiko lebih rendah. Sebaliknya, pemangkasan suku bunga atau kebijakan longgar cenderung mengalirkan likuiditas ke aset-aset alternatif seperti Bitcoin.