— Henti jantung merupakan kondisi darurat medis yang memerlukan tindakan segera. Bantuan Hidup Dasar (BHD), yang mencakup Resusitasi Jantung Paru (RJP), sangat krusial untuk memulihkan fungsi pompa jantung dan mempertahankan aliran darah ke organ vital, terutama otak.

Ketua Badan Khusus Emergency in Internal Medicine (EIMED) PAPDI, Dr. dr. Arif Mansjoer, SpPD K-Kv, IKC, FINASIM, M.Epid, menjelaskan bahwa BHD adalah pertolongan esensial bagi individu yang mengalami henti jantung dan napas. Ketika jantung berhenti berdetak, pasokan darah ke seluruh tubuh terhenti, menyebabkan hilangnya kesadaran karena otak tidak lagi menerima suplai oksigen.

Dokter penyakit dalam, dr. Anastasia Asylia Dinakrisma, SpPD.K-Ger, FIANSIM, menambahkan bahwa selain mengecek kondisi jantung, penting juga untuk memastikan tidak ada gangguan pernapasan. Jika terdapat sumbatan pada jalan napas, seperti benda asing, tindakan pengeluaran atau penyedotan mungkin diperlukan.

Henti jantung dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk serangan jantung atau penyakit lain. Kondisi henti napas yang berkepanjangan juga dapat memicu berhentinya detak jantung.

Empat Menit Krusial untuk Intervensi

Dr. Anastasia menekankan bahwa BHD harus diberikan dalam kurun waktu kurang dari empat menit setelah henti jantung terjadi. Periode ini sangat penting karena otak mulai mengalami kerusakan permanen akibat kekurangan aliran darah setelah empat menit.

Melakukan kompresi dada segera dapat membantu mempertahankan aliran darah ke otak, memberikan waktu berharga hingga bantuan medis profesional tiba. Tindakan ini bertujuan untuk mencegah atau memperlambat kerusakan otak yang lebih parah.

“Jika tanpa aliran darah berlangsung hingga sekitar 10 menit, peluang korban untuk bertahan hidup sangat kecil karena kerusakan yang terjadi sudah sangat berat,” ungkap dr. Anastasia. Ia menambahkan bahwa mempelajari dan mempraktikkan BHD sangat penting, terutama di kota besar seperti Jakarta yang sering mengalami kemacetan, sehingga ambulans membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai lokasi kejadian.

Langkah-langkah Bantuan Hidup Dasar

Prosedur BHD meliputi beberapa tahapan penting:

1. Amankan Lingkungan

Pastikan area sekitar korban aman sebelum memberikan pertolongan. Jika korban berada di lokasi berbahaya, seperti di tengah jalan raya atau dekat sumber api, pindahkan ke tempat yang lebih aman jika memungkinkan tanpa membahayakan diri sendiri.

2. Periksa Respons Penderita

Periksa kesadaran korban dengan menepuk bahunya sambil memanggil namanya. Rangsangan nyeri ringan, seperti menekan tulang dada, dapat dilakukan jika tidak ada respons. Jika korban tidak menunjukkan reaksi sama sekali, maka ia memerlukan BHD.

3. Minta Pertolongan

Segera minta bantuan orang lain untuk menghubungi nomor darurat 119. Sampaikan informasi penting seperti nama pelapor, lokasi kejadian, jenis insiden, jumlah dan kondisi korban, serta jenis bantuan yang dibutuhkan.

4. Cek Pernapasan

Posisikan kepala korban sedikit mendongak dan dagu terangkat untuk membuka jalan napas. Dekatkan pipi Anda ke mulut dan hidung korban untuk merasakan hembusan napas dan melihat pergerakan dada.

5. Lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP)

Lakukan kompresi dada dengan kedalaman minimal 5 cm dan kecepatan 100-120 kali per menit. Usahakan agar jeda kompresi seminimal mungkin. Tindakan ini dilanjutkan hingga alat Automated External Defibrillator (AED) tersedia, petugas medis datang, atau korban menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

6. Perawatan Pasca-Henti Jantung

Jika korban menunjukkan tanda pemulihan seperti mulai sadar, bergerak, atau bernapas normal, segera posisikan korban dalam posisi pemulihan. Posisikan tubuh miring ke samping dengan satu kaki ditekuk dan lengan di samping kepala, sambil memastikan jalan napas tetap terbuka.