Detak.news — Indeks-indeks utama di Wall Street menunjukkan pergerakan yang beragam pada penutupan perdagangan Jumat, 24 Juli 2026. Penguatan yang terjadi pada Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 sedikit tertahan oleh pelemahan signifikan di sektor saham semikonduktor, serta kekhawatiran yang masih membayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sementara itu, Nasdaq Composite harus menelan pil pahit dengan penurunan yang cukup dalam.
Pada akhir perdagangan, S&P 500 berhasil ditutup dengan kenaikan tipis sebesar 0,05% pada level 7.411,98. Dow Jones Industrial Average mencatat penguatan yang lebih solid, bertambah 235,60 poin atau 0,46% menjadi 51.947,25. Berbeda dengan kedua indeks tersebut, Nasdaq Composite justru mengalami koreksi 0,64%, berakhir di angka 24.975,82.
Lonjakan saham Apple yang meroket sekitar 3,5% menjadi salah satu penopang utama penguatan Dow Jones. Pergerakan pasar di awal sesi sempat menunjukkan optimisme setelah laporan Reuters mengenai potensi Pakistan menjajaki peluang pembukaan kembali perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran atas dorongan dari China. Namun, prospek negosiasi ini masih diwarnai ketidakpastian dan berbagai hambatan.
Sentimen pasar kembali bergejolak setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengindikasikan adanya pertimbangan untuk melancarkan serangan militer yang lebih besar terhadap Iran. Laporan The New York Times menyebutkan bahwa Trump telah menggelar pertemuan dengan para penasihat senior dan anggota kabinetnya untuk membahas opsi eskalasi serangan. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati menjelang akhir pekan, mengantisipasi potensi meluasnya konflik.
Di tengah gejolak tersebut, harga minyak dunia sempat mengalami koreksi. Minyak mentah Brent, yang sebelumnya sempat menyentuh level US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, akhirnya ditutup turun hampir 4% menjadi US$ 96,78 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengikuti tren pelemahan, turun sekitar 3% ke angka US$ 89,31 per barel.
Saham Chip Tertekan
Dampak konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian global, khususnya jika mengganggu pasokan energi, menjadi perhatian utama. Bill Northey, Direktur Investasi US Bank Asset Management Group, memperkirakan bahwa Federal Reserve (The Fed) kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan mendatang. Namun, tingginya harga minyak tetap menjadi risiko terhadap inflasi, sehingga sikap kehati-hatian dari bank sentral diperkirakan akan berlanjut.
Sektor semikonduktor menjadi sumber tekanan terbesar di pasar saham. Saham Intel anjlok hampir 8%, membalikkan kenaikan yang sempat terjadi sebelumnya meskipun perusahaan melaporkan laba kuartal II yang melampaui ekspektasi analis. Pelemahan juga melanda saham Broadcom yang turun 2,7%, Advanced Micro Devices (AMD) yang melemah 3,3%, dan Micron Technology yang merosot 7%. VanEck Semiconductor ETF (SMH) pun terkoreksi sekitar 3%.
Northey menjelaskan bahwa volatilitas di sektor semikonduktor lebih banyak dipengaruhi oleh pergerakan dana investor dalam jangka pendek. Meskipun demikian, prospek pertumbuhan laba industri tersebut untuk tahun 2026 dan 2027 dinilai masih tetap kuat.
Secara mingguan, performa pasar saham menunjukkan tren pelemahan. S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing turun 0,6% dan 2,1%, menandai dua pekan pelemahan berturut-turut. Dow Jones pun melemah 0,4% sepanjang pekan, mencatat penurunan mingguan ketiga secara beruntun.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.