Detak.news — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi berpeluang menguat pada perdagangan Senin, 27 Juli 2026. Penguatan mayoritas indeks di bursa Wall Street dan penurunan harga minyak mentah pasca Amerika Serikat membatalkan rencana serangan besar ke Iran diperkirakan menjadi sentimen positif bagi pasar.
Namun, aksi jual investor asing yang terus berlanjut berpotensi menjadi katalis negatif bagi pergerakan IHSG. CGS International Sekuritas Indonesia dalam ulasannya pada Senin (27/7/2026) memperkirakan IHSG akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan rentang support di level 6.105-6.015 dan resistance di 6.290-6.380.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, indeks di bursa Wall Street menunjukkan variasi dengan mayoritas menguat tipis. Hal ini terjadi seiring masih tertekannya saham produsen semikonduktor, sementara investor fokus pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Di awal sesi, indeks sempat bergerak menguat sejalan dengan penurunan harga minyak mentah. Penurunan ini dipicu oleh kabar upaya Pakistan untuk memfasilitasi negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun hambatan yang ada saat ini sangat besar.
Sebelumnya, pada awal pekan lalu, Donald Trump menyatakan akan segera mengambil keputusan mengenai potensi serangan besar Amerika Serikat ke Iran pasca konflik yang meluas ke Laut Merah. Pada Jumat waktu setempat, New York Times melaporkan bahwa Donald Trump mengadakan pertemuan dengan penasihat terbaik dan pejabat senior kabinet untuk membahas apakah konflik dengan Iran akan diperbesar atau tidak.
Menyikapi potensi pergerakan pasar, CGS International Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi enam saham untuk aktivitas trading pada Senin, 27 Juli 2026. Saham-saham tersebut adalah AKRA, EMAS, UNVR, ISAT, JPFA, dan ADRO.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.