— Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan mulai membiarkan sebagian rudal dan pesawat nirawak (drone) Iran melintas tanpa dicegat. Langkah efisiensi ini diambil menyusul semakin menipisnya stok amunisi pertahanan udara AS di tengah konflik yang kian memanas.

Menurut laporan NBC News yang mengutip dua pejabat senior AS pada Senin (27/7/2026), para komandan militer kini lebih selektif dan mengizinkan sebagian serangan udara Iran menembus sistem pertahanan demi menghemat pasokan rudal pencegat. Namun, pihak militer AS menegaskan seluruh ancaman yang dinilai membahayakan keselamatan personel militer AS tetap menjadi prioritas utama untuk ditembak jatuh.

Untuk ancaman yang mengarah ke wilayah tanpa personel militer, rudal dan drone Iran dalam beberapa kasus dibiarkan melintas, sekalipun berpotensi merusak infrastruktur pangkalan.

Bantahan Resmi Diplomat AS

Laporan mengenai krisis amunisi tersebut membentur bantahan tegas dari pemerintah AS. Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, menepis kabar menipisnya persediaan persenjataan militer negaranya. Dalam wawancaranya dengan NBC News pada Minggu (26/7/2026), Waltz meminta masyarakat publik tidak menelan mentah-mentah informasi yang bocor ke media tersebut. Ia bahkan menegaskan, pihak yang membocorkan rahasia internal itu layak dijebloskan ke dalam penjara.

Sebelumnya, laporan dari CBS pada Jumat (24/7/2026) mengungkapkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump tengah khawatir atas laju penggunaan persenjataan AS yang terus melonjak tinggi di kawasan Timur Tengah. Pada hari yang sama, Trump dilaporkan mengambil keputusan untuk menunda rencana peningkatan operasi militer secara masif terhadap Iran.

Keputusan strategis tersebut diambil atas pertimbangan risiko eskalasi konflik yang berpotensi semakin menguras persediaan rudal pencegat Patriot serta amunisi pertahanan udara penting lainnya. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak seiring meningkatnya intensitas serangan balasan berbasis rudal dan pesawat nirawak di kawasan Timur Tengah.

Sebagai pelindung aset dan sekutunya di wilayah tersebut, AS mengandalkan sistem pertahanan udara canggih seperti cangkang pertahanan Patriot. Namun, tingginya frekuensi gelombang serangan Iran memicu kekhawatiran global mengenai kapasitas produksi industri pertahanan AS yang dinilai kewalahan mengimbangi tingkat konsumsi amunisi di lapangan.