Detak.news — Warren Buffett, investor legendaris yang dikenal sebagai Oracle of Omaha, mengakui bahwa ia terlambat dalam mengambil keputusan investasi di Alphabet, perusahaan induk Google. Meskipun Berkshire Hathaway kini memiliki saham Alphabet senilai lebih dari US$ 31 miliar (sekitar Rp 557 triliun), Buffett menyatakan penyesalannya karena tidak melakukan investasi tersebut jauh lebih awal.
“Saya melakukan kesalahan,” ujar Buffett dalam sebuah diskusi, merujuk pada keputusan Berkshire yang baru berinvestasi di saham teknologi tersebut setelah bertahun-tahun menghindarinya. Namun, pengakuan ini justru memberikan pelajaran berharga bagi investor lain mengenai strategi membangun kekayaan jangka panjang.
Filosofi Investasi yang Konsisten
Buffett menegaskan bahwa meskipun Alphabet bergerak di tengah persaingan kecerdasan buatan (AI), filosofi investasi Berkshire Hathaway tetap tidak berubah. Fokus utamanya adalah mencari perusahaan yang mampu menghasilkan imbal hasil atas modal (return on capital) yang luar biasa dalam jangka panjang.
“Yang terpenting adalah membeli bisnis yang bagus dengan harga yang tepat, lalu menyerahkannya kepada orang yang tepat untuk mengelolanya,” jelas Buffett. Ia menekankan pentingnya menemukan bisnis yang dapat menghasilkan pendapatan jauh di atas aset bebas risiko seperti obligasi pemerintah AS.
Menurutnya, kunci utama kesuksesan adalah menemukan bisnis yang akan menghasilkan imbal hasil modal tinggi dalam jangka waktu yang lama. Periode waktu yang panjang sangat krusial karena efek penggandaan (compounding) di masa depan akan menghasilkan angka yang besar. Strategi ini menjadi ciri khas karier Buffett, di mana ia lebih memilih perusahaan yang sanggup menumbuhkan laba dan menginvestasikan kembali modalnya selama puluhan tahun, daripada berspekulasi menebak pergerakan saham jangka pendek.
Bukan Mencari “Google Berikutnya”
Pernyataan Buffett ini membantah anggapan umum di kalangan investor ritel yang meyakini keharusan mencari saham fenomenal berikutnya (the next big thing). Pendekatan Buffett jauh lebih sederhana: mengidentifikasi bisnis yang bertahan lama, membelinya pada harga yang masuk akal, dan membiarkan waktu bekerja.
Sebagai ilustrasi, investasi awal sebesar US$ 10.000 dengan pertumbuhan majemuk 10% per tahun akan berkembang menjadi sekitar US$ 25.900 setelah 10 tahun, US$ 67.300 setelah 20 tahun, dan lebih dari US$ 174.000 setelah 30 tahun, tanpa penambahan dana sama sekali. Menariknya, meskipun memegang saham Alphabet bernilai triliunan rupiah, Buffett menyebut Coca-Cola, American Express, dan Apple masih menjadi saham favorit utamanya di Berkshire.
Konsistensi dan Durasi Investasi
Pelajaran terbesar dari langkah investasi ini adalah pentingnya konsistensi dan durasi dalam berinvestasi. Keberhasilan Buffett tidak didasarkan pada ketepatan waktu pasar (market timing) saat membeli saham, melainkan pada konsistensi menanamkan modal pada bisnis berkualitas tinggi dan membiarkan bunga berbunga bekerja maksimal.
Bagi investor individual, memiliki strategi investasi jangka panjang yang terencana, memanfaatkan instrumen investasi yang terjangkau, serta fokus pada diversifikasi modal jauh lebih krusial ketimbang sekadar menebak-nebak pergerakan pasar saham.
Meskipun Buffett secara historis cenderung menghindari saham teknologi tinggi karena prinsip berinvestasi hanya pada bisnis yang ia pahami (circle of competence), adaptasi taktis Berkshire melalui investasi masif pada Apple dan Alphabet dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan fleksibilitas strateginya dalam memanfaatkan potensi pertumbuhan perusahaan teknologi dengan keunggulan kompetitif (moat) yang kuat.
Ikuti Detak.news
