Detak.news — JAKARTA – Investor legendaris Warren Buffett kembali menegaskan pandangannya yang menolak Hipotesis Pasar Efisien (EMH). Teori ekonomi ini berpendapat bahwa harga saham di pasar selalu mencerminkan seluruh informasi yang tersedia dan berada pada nilai wajarnya.
Menurut teori EMH, yang dikutip dari Investopedia, mustahil bagi investor untuk secara konsisten mengungguli performa pasar, kecuali semata-mata karena keberuntungan. Namun, Buffett, berdasarkan kesuksesan investasinya selama puluhan tahun, membantah klaim ini. Ia berargumen bahwa investor yang cerdas dapat meraih keuntungan di atas rata-rata melalui analisis mendalam dan strategi investasi yang disiplin.
Menariknya, di tengah kritiknya terhadap teori pasar efisien, Buffett justru secara konsisten menyarankan investor ritel untuk berinvestasi pada reksa dana indeks (index fund). Strategi pasif ini pada dasarnya berakar dari prinsip EMH. Pertanyaannya, bagaimana Buffett menjelaskan pandangan yang tampak kontradiktif ini?
Apa Itu “Pasar Efisien”?
Hipotesis Pasar Efisien (EMH) menggambarkan pasar keuangan sebagai sistem yang “efisien secara informasi”. Ini berarti harga aset akan segera menyesuaikan diri setiap kali ada informasi baru. Teori ini menyatakan bahwa upaya untuk timing the market (mencari waktu terbaik untuk membeli atau menjual) tidak akan mampu mengalahkan hasil pasar secara konsisten, terutama setelah dikurangi biaya transaksi dan pajak.
Popularitas reksa dana indeks, yang dimulai pada era 1970-an, tidak lepas dari berkembangnya wacana EMH di kalangan ekonom pada masa itu. Produk investasi ini berfokus untuk meniru pergerakan pasar, bukan untuk mengalahkannya.
Meskipun mengakui bahwa pasar saham umumnya cukup efisien, Buffett menegaskan bahwa menjadikan EMH sebagai acuan utama dalam berinvestasi adalah kesalahan yang sangat fatal. Baginya, hakikat berinvestasi adalah menilai harga dan kualitas asli dari suatu bisnis.
“Penting untuk dipahami bahwa harga saham sering kali ditransaksikan pada angka yang sangat konyol, baik terlalu tinggi maupun terlalu murah. Pasar yang benar-benar ‘efisien’ hanya ada di dalam buku teks,” tulis Buffett dalam suratnya kepada pemegang saham pada tahun 2022.
Untuk memperkuat argumennya, Buffett menunjuk keberhasilan para value investor kenamaan, termasuk mentornya, Benjamin Graham. Mereka terbukti mampu secara konsisten mengungguli pasar dengan cara mengidentifikasi dan membeli saham-saham yang nilainya sedang diperdagangkan di bawah harga wajar (undervalued).
Rekor portofolio perusahaan milik Buffett, Berkshire Hathaway Inc. (BRK.A), juga menjadi bukti nyata. Hasil investasinya jauh melampaui rata-rata pasar dalam jangka panjang, menunjukkan bahwa analisis mendalam dan disiplin tinggi mampu menghasilkan kinerja di atas rata-rata.
Saran Buffett untuk Investor Ritel dan Awam
Lantas, mengapa Buffett tetap menyarankan investor awam untuk membeli reksa dana indeks daripada memilih saham sendiri?
Bagi Buffett, ini bukanlah sebuah kontradiksi, melainkan penyesuaian strategi berdasarkan tujuan, gaya hidup, dan toleransi risiko masing-masing orang. Ia menyadari bahwa strategi active value investing memang bisa mengalahkan pasar, tetapi membutuhkan waktu, keahlian khusus, serta kontrol emosi yang luar biasa, yang jarang dimiliki kebanyakan orang.
Dibandingkan sibuk menebak arah pasar, Buffett menyarankan investor awam untuk menerapkan metode dollar-cost averaging (DCA)—yaitu membeli reksa dana indeks secara rutin dengan nominal tetap tanpa terpengaruh kondisi pasar. Strategi ini meredam emosi dan memastikan investor tetap menikmati pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
“Tujuan investor non-profesional bukanlah memilih saham pemenang. Tujuan mereka adalah memiliki sebagian kecil dari kelompok bisnis yang secara kolektif pasti tumbuh baik. Reksa dana indeks S&P 500 berbiaya rendah adalah sarana terbaik untuk mencapai tujuan itu,” tulis Buffett pada surat pemegang sahamnya di tahun 2013.
Warren Buffett pernah berseloroh bahwa ia perlu berterima kasih kepada para pendukung teori EMH.
“Kerugian bagi para pelajar dan profesional gullible (mudah percaya) yang menelan bulat-bulat teori EMT justru menjadi keuntungan luar biasa bagi kami. Dalam kompetisi apa pun—finansial, mental, atau fisik—memiliki lawan yang diajari bahwa ‘berusaha itu sia-sia’ adalah sebuah keuntungan yang sangat besar,” tulisnya pada tahun 1988.
Meskipun Warren Buffett menolak anggapan pasar selalu menilai harga saham secara akurat, ia tetap merekomendasikan reksa dana indeks bagi masyarakat umum. Sebab, pada kenyataannya, konsisten mengalahkan kinerja pasar adalah pekerjaan yang sangat sulit dan membutuhkan keahlian tingkat tinggi.
Perdebatan mengenai efisiensi pasar saham telah menjadi topik hangat di dunia finansial sejak Eugene Fama mencetuskan Efficient Market Hypothesis (EMH) pada akhir 1960-an. Teori ini melahirkan revolusi industri reksa dana pasif (seperti Vanguard) yang memudahkan masyarakat berinvestasi tanpa perlu menganalisis laporan keuangan perusahaan satu per satu.
Namun, di sisi lain, pendekatan value investing yang dipelopori Benjamin Graham dan dipopulerkan oleh Warren Buffett terbukti melahirkan banyak miliarder yang mampu melipatgandakan kekayaan dengan cara memanfaatkan “ketidakefisienan” pasar.
Memahami dinamika antara kedua sudut pandang ini sangat penting bagi investor modern agar dapat memilih strategi yang paling realistis sesuai dengan waktu, modal, dan profil risiko yang mereka miliki.
Ikuti Detak.news
